Sertifikasi Akuntan Profesional CIMA

Sertifikasi Akuntan Profesional CIMA

Saya baru berkarya di bidang sertifikasi akuntansi sejak 2014. Dalam kurun waktu tersebut sampai dengan sekarang, banyak proses pembelajaran yang saya peroleh terkait sertifikasi itu sendiri, pentingnya sertifikasi, bagaimana penerimaan publik atas sertifikasi dan lain sebagainya. Saya sendiri ketika masih bekerja di Bank OCBC NISP sangat tertarik untuk mengambil sertifikasi CFA (Chartered Financial Analyst). Hanya saja, sampai saya akhirnya resign dari Bank tersebut atau bahkan sampai dengan sekarang, saya belum mengambil sertifikasi tersebut. Mudah-mudahan tahun 2018 saya bisa menyelesaikan sertifikasi akuntan profesional CIMA.

Penerimaan Sertifikasi Profesional

Dulu, ketika saya kuliah, saya tidak begitu peduli terhadap sertifikasi selain memang belum familiar makna sertifikasi bagi seorang mahasiswa. Rasanya gelar S1 sudah cukup bagi seorang fresh graduate untuk memulai perjalanan karir mereka. Bagi yang memiliki latar belakang akuntansi, langkah pertama tersebut bisa dimulai dengan bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP), di Big 4 accounting firms (atau Big 6), di perusahaan lokal atau multinasional, BUMN, atau bahkan sebagai PNS. Banyak jalan untuk memulai perjalanan karir seseorang.

Di Indonesia, rasanya kita masih sangat berorientasi terhadap gelar akademisi. Karena itulah, banyak lulusan sekolah menengah atas, tertarik untuk meneruskan ke tingkat sarjana (S1) atau vokasi (D3), meskipun menurut data litbang Kompas (diolah dari ADB Outlook 2016 & BPS), 88% tenaga kerja kita memiliki pendidikan paling tinggi di level SMU/SMK. Begitu besar tenaga kerja kita yang tidak menyelesaikan pendidikan sampai dengan level Diploma/Akademi atau Universitas. Ini tentu PR besar untuk bangsa ini.

Sistem pendidikan Indonesia sudah pasti berbeda dengan sistem pendidikan/edukasi di negara lain. Terkadang, membandingkan level pendidikan tertentu di negara A dengan negara B tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada A level atau O level di sistem edukasi di negara-negara persemakmuran, yang pastinya berbeda dengan sistem SMU/SMK. Di beberapa negara, setelah menyelesaikan high school, ada yang langsung mengambil jalur sertifikasi untuk menjadi profesional selain pilihan mengambil jalur undergraduate degree.

Sertifikat Akuntan Profesional CIMA
Degree (source: https://upload.wikimedia.org)

Saya pernah mendapatkan seorang kolega yang memiliki sertifikasi akuntan dari Inggris, tetapi dia sendiri tidak memiliki gelar akademis alias Bachelor. Ini mungkin sesuatu yang umum di Inggris, tetapi mungkin tidak umum (atau belum) di Indonesia. Ini menjadi masalah bagi dia ketika menjadi profesional dalam sebuah proses tender. Dia harus meminta surat pengakuan ke sebuah lembaga pemerintah di Inggris yang menyatakan bahwa sertifikasi yang dimilikinya setara dengan Master Degree. Jika kita melihat lowongan pekerjaan untuk posisi staff ke atas, rata-rata memiliki gelar akademis (minimal S1) adalah kewajiban. Sangat jarang kita menemukan lowongan pekerjaan di Indonesia (untuk staff ke atas) yang tidak mengharuskan punya gelar akademis, misalnya boleh mempunyai sertifikasi sebagai subsitusi gelar degree.

Saya pernah berbicara dengan salah satu partner KAP Big 4 di Indonesia. Ketika itu, kami menginformasikan bahwa fresh graduate  yang mau diterima di accounting firm tersebut di negara lain harus sudah memiliki sertifikasi profesional akuntan, setidaknya di level tertentu. Kami menanyakan kenapa ini tidak berlaku di Indonesia. Jawabannya dia cukup sederhana, “kami cukup puas dengan lulusan S1 disini. Mungkin di negara tersebut, tuntutan dari pekerjaan sudah sedemikian tinggi sehingga dibutuhkan sertifikasi professional dengan level tertentu. Di Indonesia, lulusan S1 akan kami poles melalui on-the-job training dan juga pelatihan internal agar bisa memenuhi kebutuhan kerja”. Dia menambahkan baru akan mengirimkan tim nya mengambil sertifikasi ketika sudah di level tertentu karena tuntutan peraturan dan pekerjaan.

Ini terjadi tidak hanya dikarenakan sistem pendidikan kita, tetapi juga karena sistem / kerangka kualifikasi kerja di Indonesia. Ya, kita berbicara supply dan demand; yang kemudian dikaitkan dengan peran operator serta regulator. Isu ini sangat kompleks dan tidak akan saya bahas disini.

Sertifikasi Internasional

Mempopulerkan sertifikasi internasional terutama di bidang keuangan dan akuntansi tidaklah mudah. Demand dari perusahaan untuk mengharuskan fresh graduate memiliki sertifikasi belum begitu tinggi. Banyak perusahaan mengakui bahwa lulusan S1 di Indonesia memang tidak 100% siap kerja, namun mereka sudah mengantisipasinya dengan proses pembekalan melalui pelatihan, On-The-Job Training, penempatan, dan lain-lain.

Saat ini, sudah mulai banyak organisasi bisnis di Indonesia yang membekali karyawan mereka (meskipun belum di level fresh graduate) untuk mendapatkan sertifikasi internasional.  Salah satu perusahaan Consumer Goods terbesar di Indonesia, misalnya, mensupport staff mereka untuk mengambil kualifikasi CIMA (Chartered Institute of Management Accountants). Untuk level assistant manager, mereka memulai di level Operational dan manager memulai di level Management. Beberapa perusahaan lain juga mengirimkan karyawan mereka mengambil CFA misalnya.

Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan era globalisasi melahirkan kebutuhan-kebutuhan akan pengakuan internasional terhadap kemampuan seseorang. Sertifikasi Internasional menjadi salah satu tools untuk menjembatani kebutuhan itu ketika sistem pendidikan di negara A dan B belum tentu setara dari sisi kualitas.  Ketika seorang memiliki sertifikasi internasional A, itu berarti dia sudah diakui secara internasional memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang A yang profesional. Memiliki staff dengan pengetahun dan kemampuan internasional akan berdampak positif bagi sebuah organisasi bisnis. Mereka akan menjadi pendorong, partner, pemimpin, dan team player yang handal dan memiliki wawasan yang luas tidak hanya dari pengetahun lokal, tetapi juga secara internasional.

sertifikasi akuntan profesional CIMA

Menurut saya, ini saat yang tepat bagi profesional maupun mahasiswa, untuk mulai mempertimbangkan sertifikasi internasional. Era tanpa batas ini membuat kita menjadi global citizen. Begitu banyak resiko yang bisa hadir tanpa kita sadari sejak dini. Saya teringat sebuah kisah mengenai katak di dalam kuali. Jika seekor katak ditaruh di kuali yang sudah berisi air panas, katak tersebut akan langsung meloncat. Akan tetapi, jika katak itu awalnya ditaruh di sebuah kuali dengan air hangat, dia akan merasa nyaman. Perlahan, suhu di kuali tersebut dinaikan sehingga sang katak tidak sadar, terbuai kenyamanan, sehingga terlalu lemas untuk meloncat keluar dan akhirnya tenggelam dan berpulang dalam kuali yang panas.

Ini sebuah analogi, bahwa kita punya potensi menjadi seperti katak tersebut. Merasa nyaman dengan keadaan sekarang, tanpa kita tahu bahwa di era globalisasi, ancaman itu datang tidak seketika, melainkan perlahan demi perlahan. Ketika kita sadar, terkadang kita sudah terlambat untuk menyelesaikannya. Kini, kita bisa melihat banyak tenaga kerja asing yang menyerbu Indonesia. Border less era memungkinkan adanya pergerakan dinamis bagi orang-orang yang memiliki kompetensi.

Perlahan, kebutuhan akan kompetensi dan pengakuan internasional itu bisa hadir di Indonesia bak Black Swan jika mengutip Nassim Nicholas Taleb. Ketika kita belum menguasainya, kita akan semakin tenggelam di bawah. Jika kita sudah memulainya sekarang, kita bisa membekali sejak awal ketika tiba-tiba kita dituntut untuk dapat memberikan kontribusi lebih.

Ini menjadi kondisi yang menguntungkan bagi mahasiswa untuk bisa memulai lebih dini. Semakin derasnya informasi dan juga semakin terbuka universitas untuk memberikan informasi mengenai sertifikasi kepada mahasiswa, mahasiswa kini bisa menjadi generasi pengubah untuk ke depannya. Apalagi kini semakin banyak organisasi asing yang membuka perpanjangan tangan di Indonesia. Mahasiswa mempunyai kemewahan waktu dan energi untuk belajar, dibandingkan profesional. Ketika mereka membekali sejak dini atau telah menyelesaikan beberapa level sejak awal, mereka kelak hanya tinggal menyelesaikan beberapa level ketika sudah bekerja. Dengan memiliki sertifikasi level tertentu juga sudah pasti akan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa terkait employability. Kesempatan untuk bekerja di perusahaan ternama atau bahkan di luar negeri (di negara-negara yang sudah me-recognise sertifikasi) semakin terbuka lebar.

Sertifikasi Akuntan Profesional CIMA

Salah satu sertifikasi yang menarik bagi saya adalah sertifikasi akuntan  profesional CIMA. CIMA sendiri adalah singkatan dari Chartered Institute of Management Accountants. Sertifikasi Akuntan Profesional CIMA didesain untuk memadukan financial accounting, management accounting, dan subjek-subjek dengan fokus bisnis. Sertifikasi ini dikembangkan dari CGMA Competency Framework, yang merupakan hasil riset mendalam dari banyak industri di seluruh dunia mengenai skill apa yang dibutuhkab oleh seorang finance and accounting leaderManagement Accountant menjadi salah satu fungsi atau profesi yang kelak akan semakin bersinar dengan adanya otomatisasi dan digitalisasi. Management Accountant dituntut untuk bisa menjadi partner bagi sebuah pemimpin bisnis (CEO), tidak hanya melulu berbicara controlling, treasury, dan sebagainya.

Sertifikasi Akuntan Profesional CIMA
CGMA Competency Frameworks (source: http://www.cimaglobal.com)

Keunikan CIMA terletak pada kemampuannya mengintegrasikan 4 kompetensi yakni Technical Skill, Business Skill, People Skill, dan Leadership Skill. Selain itu, Case Study Exam yang ada di sertifikasi akuntan profesional CIMA menguji kemampuan seseorang untuk berpikir sebagai seorang business partner dan intergrator. Seseorang akan bermain peran (role play) dan disitu akan diuji seberapa dalam dia bisa memberikan jawaban yang komprehensif. Sangat aplikatif untuk diterapkan di dunia pekerjaan.

Saya sendiri tertarik untuk mengambil sertifikasi akuntan profesional CIMA. Karena saya memiliki latar belakang edukasi tertentu, saya bisa memulai perjalanan CIMA di level tertentu. Semoga menyelesaikan sertifikasi akuntan profesional CIMA ini bisa menjadi resolusi saya di tahun 2018. Semoga. Mari kita bekali diri dengan pengakuan internasional di era internasional. Saya akan tutup artikel ini dengan kutipan dari Benjamin Franklin, “an investment in knowledge pays the best interest“. Ya, pendidikan adalah investasi terbaik untuk kita semua.

An investment in knowledge pays the best interest
– Benjamin Franklin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *