Genap sudah satu tahun disini. Jadi teringat masa-masa pertama tiba disini. Sebelum berangkat, saya tidak mengenal seorang pun di London, meskipun saya tahu belakangan ada yang namanya PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang konon kabarnya gemar membantu mahasiswa-mahasiswi dari Indonesia. Karena itulah, pertama kali sampai sini kebingunan sana-sini mencari tempat tinggal.

Dua hari  pertama ‘terpaksa’ tinggal di Hotel “mewah” Ibis, Wembley disebabkan Wisma Siswa Merdeka, yang konon dikelola orang Indonesia sedang penuh. Setelah dua malam menginap di hotel, akhirnya pindah ke Wisma Merdeka. Ya, lumayan untuk kantong mahasiswa, hanya sekitar £13 per orang per malam. Bandingan dengan di hotel Ibis yang mencapai £40 per malam.

Kesan pertama itu selalu indah. Pertama kali sampai di London dimana itu adalah siang hari, langsung tertidur pulas dari jam 4 sore sampai 9 pagi besoknya. Indah bukan? Besok paginya langsung mandi dan jalan-jalan dengan menggunakan 4 lapis baju: Long John, t-shirt, kemeja dan jaket. Oaa.. ternyata panas. Seperti Miss Bandung yang sedang panas. Maklum, awalnya nyangkain kota-kota Eropa dinginnya permanen. Ternyata…

Setelah itu, berjalan kaki mencari makan dan makanan yang pertama dipesan adalah BigMac McDonalds. Terima kasih untuk Ronald McDonald yang menyebarkan diri diseluruh dunia sehingga menciptakan suatu standardisasi memudahkan mencari makan. Setelah makan, maka proses pencarian rumah pun berlanjut hingga akhirnya nemplok di kawasan Harrow. Setelah melalui perjuangan panjang masuk dari satu agen ke agen lainnya, bisa dapat juga tempat tinggal yang menentramkan. Sebenarnya dari Indonesia, sudah melihat beberapa tempat tinggal yang menarik dan sudah menghubungi agen untuk bikin janji viewing. Ternyata sampai di London, ada yang tempat tinggalnya sudah laku, ada pula yang ternyata fotonya sangat ‘elok’ (berbeda dengan kenyataan) dan ada pula yang ternyata masih harus menunggu akhir bulan. Ya, mendapat tempat tinggal ini berkat Mestakung. Semesta Mendukung.

courtesy: http://global-msi.com/wp-content/gallery/non-forecourt/mcdonalds-wembley.jpg

London, bukan merupakan kota yang wow. Sebelum tiba di London, saya beranggapan London itu seperti Singapura, sebuah kota yang disiplin, bersih dan dapat diandalkan. Oaah… ternyata; kotor, tidak displin dan fasilitas transportasi publiknya tak dapat diandalkan. Stasiun Tube (tube itu semacam kereta listrik, yang menjadi moda transportasi utama masyarakat London) kotor dan lebih banyak yang tidak bersahabat untuk orang disable. Waktu kedatangan tube tidak dapat diprediksi. Telat akibat alasan signal failure adalah hal yang lumrah. Ya, sama seperti di Jakarta, jika ada acara penting sisakan waktu 1-2 jam sebagai mitigasi jika tube nya mati. Orang-orangpun sebagian besar menyeberang jalan dimanapun kapanpun. Amboy rasanya.

Sekarang sudah satu tahun saya disini. Ya beginilah rasanya….