Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa kisah saya bertemu manajer atau mendengar cerita tentang manajer yang ternyata sangat concern terhadap skill development. Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim sangat vital. Manajer menjadi perpanjangan tim HR dalam melakukan analisis kekuatan dan kelemahan tim, dan bagaimana mengisi gap yang ada melalui pengembangan kemampuan.

Mengasah gergaji

Bab yang paling saya sukai dari buku ‘The 7 Habits of Highly Effective People’ karya Stephen R. Covey adalah Sharpen the Saw, atau dalam bahasa Indonesianya adalah mengasah gergaji. Mengasah gergaji merupakan salah satu enabler atau tool yang paling dahsyat untuk menghasilkan sebuah proses dan kreasi yang mangkus dan sangkil. Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Berdasarkan ilustrasi pada buku tersebut, saya coba menceritakan ulang dengan gaya saya. Ada 2 orang yang diberikan waktu 55 menit untuk mampu menebang pohon sebanyak-banyaknya menggunakan gergaji (dalam hal ini, kita asumsikan mereka sangat memperhatikan isu lingkungan dan sustainability). Si A, berusia 35 tahun, saya gambarkan dengan grafik berwarna kuning pada gambar di bawah. Si B, berusia 25 tahun, saya gambarkan dengan grafik berwarna biru pada gambar di bawah. Dalam waktu 15 menit pertama, masing-masing mereka dapat menebang 15 pohon alias rata-rata 1 pohon per menit.

Memasuki menit ke-16, ada perubahan pola bekerja dari si A dan si B. Si B, yang masih muda, terus menggergaji sampai menit ke 20. Sementara itu, si A, memilih menggunakan menit 16 s.d menit 20 untuk mengasah gergajinya dan tidak menebang pohon sama sekali sembari beristirahat sejenak. Di menit ke 20, Si B mengungguli Si A karena si B sudah menebang 19 pohon dan si A masih terpaku di angka 15. Dari menit 20 sampai dengan menit 35, keduanya terus menebang pohon. Di menit 35 s.d 40, si A (lagi-lagi) menghentikan kerjanya untuk kembali mengasah gergajinya. Sementara itu, si B, merasa tidak punya waktu untuk berhenti dan terus menggergaji.

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Apa yang terjadi kemudian di menit ke 55 alias di akhir waktu? Ternyata si A, yang menghentikan kegiatannya dalam periode 15 menit sekali, berhasil menebang total 45 pohon. Dengan mengasah gergajinya, dia menjaga konsistensi untuk dapat menebang pohon dengan rata-rata 1 pohon per menit. Sementara itu, si B ‘hanya’ berhasil menebang 40 menit. Si B tidak menyadari bahwa semenjak menit ke 20, gergajinya sudah tidak mampu menjaga konsistensi 1 pohon per menit. Gergaji yang terus digunakannya tumpul dan si B lengah untuk kembali mengasahnya. Si B hanya terus bekerja dan bekerja. Dari rata-rata awal 5 pohon per 5 menit, usaha si B malah semakin menurun menjadi 4 pohon per 5 menit dan akhirnya 3 pohon per 5 menit. Keduanya sudah menunjukan kerja keras. Hanya saja si A lebih unggul karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh si B.

Ilustrasi di atas menggambarkan pentingnya seseorang untuk berhenti sejenak untuk mengasah gergajinya. Seseorang bisa berhenti sejenak untuk kemudian belajar, memperdalam ilmu mengenai sesuatu, menarik nafas untuk sekedar beristirahat memulihkan tenaga, mempertajam kemampuan analisisnya, atau bahkan mengubah cara pandang terhadap sebuah masalah sehingga menghasilkan solusi yang lebih baik. Mengasah gergaji ini memberikan kesempatan seseorang untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih efektif. Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Hal ini sering kita lihat dalam dunia pekerjaan. Sering saya temui, para manajer yang terus menyuruh anak buahnya bekerja dan bekerja. Si manajer merasa apa yang selama ini dilakukan oleh dirinya dan timnya sudah benar dan tak perlu dikoreksi. Mungkin memang caranya sudah benar. Hanya saja, mungkin ada metode terkini lainnya yang bisa membuat kerja timnya lebih ringan.

Sering saya temui manajer yang merasa anak buahnya sudah pandai-pandai karena sudah mengambil S2. Dia merasa timnya hanya perlu belajar by doing dan sesekali saja melakukan pelatihan jika memang dirasakan sangat diperlukan. Dia melihat kebutuhan timnya berdasarkan kacamata saat ini dan masa lampau, bukan berdasarkan kecekatan menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Dia merasa tidak perlu membekali timnya sebuah skill tertentu karena hal tersebut tak pernah terjadi di organisasinya. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi di era penuh VUCA (Volatility, uncertainty, complexity and ambiguity). Seorang manajer harus bisa melihat fenomena Black Swan ini dan melakukan perhitungan dengan cermat.

Sering juga saya temui atau saya dengar, si manajer tidak mau ambil pusing untuk pelatihan atau pengembangan kemampuan tim nya. Dia merasa itu adalah tanggung jawab tim HR, terutama di bagian learning and development (L&D). Dia hanya tinggal meminta tim L&D untuk melakukan perencanaan dan menyiapkan training yang cocok untuk timnya, terlepas itu relevan atau tidak. Sering pula saya temui, manajer yang tidak berani mendorong tim nya untuk mau belajar. Dengan kata lain, si bos, tidak mau ambil pusing jika anak buahnya menolak pada ajakan pertama. Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim sangat vital dan penting. Seorang manajer harus mampu melihat dan menganalisis kekuatan tim nya dan kemudian mengembangkan timnya agar menjadi solid dan hebat. Seorang manajer di divisi pemasaran harus mempersiapkan timnya agar dapat memahami ATL, BTL, Brand Activation, Digital Marketing, 360 marketing, dan PR secara utuh. Dia harus terus membekali timnya akan tren dan metode-metode terbaru pada hal-hal diatas. Ada anak buahnya yang disiapkan tangguh di ATL, ada yg di BTL, ada di PR, dan seterusnya. Pembekalan tersebut dapat berupa banyak hal seperti mengirimkannya ke seminar, konferensi, pelatihan, sertifikasi, atau bahkan melalui membaca buku. Dengan begitu, tim marketingnya sangat tanggap terhadap perubahan dan mampu menghasilkan komunikasi pemasaran yang tepat.

Manajer punya peran sangat besar dalam pengembangan kemampuan timnya. Dia harus bisa menjadi perpanjangan tangan HR dalam memilih pelatihan yang cocok atau bahkan harus bernegosiasi dengan HR (jika diperlukan) agar dia bisa membekali timnya dengan pembekalan yang tepat. Jika timnya sudah dikembangkan dengan baik, maka kinera yang dihasilkan seharusnya berkorelasi positif. Timnya dapat berfikir komprehensif, dan dapat melakukan cara-cara problem solving yang cepat, tepat, dan hemat.

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim
(sumber: gapintelligence.com)

Investasi Pengembangan Kemampuan

Saya pernah bertemu dengan seorang manajer yang sangat memperhatikan pengembangan kemampuan timnya. Pada awalnya, tim dia berkeberatan mengikuti pelatihan yang sudah dipilih oleh sang manajer. Timnya merasa tidak perlu mengikuti pelatihan tersebut karena hanya menambah beban waktu untuk belajar. Si manajer, tidak punya pilihan lain, akhirnya memaksa anak buahnya untuk ikut. Kini, di saat si manajer ini sudah dipromosikan ke bagian lain, ternyata timnya tetap bersemangat meneruskan pelatihan yang awalnya mereka tolak. Si manajer ini sangat senang. Dia merasa mempunyai tanggung jawab untuk membekali seseorang dengan ilmu dan kemampuan yang terbaik. Dia berfikir bahwa dia tidak selamanya di perusahaan dan anak buahnya pun tidak selamanya di perusahaan tersebut. Oleh karena itu, dia memiliki misi pribadi untuk dapat membekali anak buahnya dengan pengetahuan-pengetahuan terkini agar kemampuan mereka terus meningkat guna memberikan kontribusi positif untuk kinerja divisi dan juga sebagai bekal untuk mereka kelak menjadi the next leader. Bagi sang manajer ini, seorang pemimpin yang hebat adalah seseorang yang bisa menghasilkan pemimpin hebat lainnya.

Saya sendiri pernah merasakan punya bos yang hanya fokus pada pekerjaan. Saya hanya diminta untuk bekerja dan bekerja, tanpa ada pelatihan yang layak. Kita seringkali melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa berfikir untuk menciptakan proses yang lebih cepat dan sederhana. Bagi bos saya, kita tidak punya waktu untuk ikut pelatihan atau training. Jika saya pergi selama 5 hari untuk training, baginya itu adalah beban, dan bukan sebuah investasi. Sungguh sangat disayangkan.

Di sisi lain, saya juga pernah mendapatkan atasan yang sangat peduli terhadap kemampuan anak buahnya. Bos saya ini sering menyuruh timnya untuk belajar melalui metode apapun: seminar, konferensi, baca buku, debat, dsb. Sejauh apapun tempat belajarnya dan selama apapun periode belajarnya, jika memang baginya dirasa penting, dia tak segan-segan mengirimkan anak buahnya. Baginya, memberikan pelatihan merupakan sebuah investasi positif bagi perusahaan. Saya merasa sangat senang bisa bekerja di bawah arahan beliau. Ketika beliau merasa tidak mampu mengajarkan ilmu yang tepat, beliau menyarankan saya untuk belajar dengan orang yang lebih mumpuni. Pada saat itu, saya merasa sangat kaya secara keilmuan. Saya jadi tahu banyak hal terlepas apakah itu bisa diterapkan di organisasi atau tidak. Setidaknya itu membuka kacamata saya dan memberikan saya perspektif baru dalam menghadapi sebuah masalah.

Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim
Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Seperti kisah si A dan si B di atas, seorang manajer harus mampu melihat kapan seseorang / timnya harus diberikan waktu untuk ‘mengasah gergaji’ sejenak. Mundur 1 langkah untuk kemudian bisa maju 3 langkah sangatlah penting di era persaingan ketat ini. Memberikan pelatihan yang tepat kepada tim bukan hanya sebagai langkah untuk memberikan hasil terbaik bagi organisasi, tetapi juga sebagai salah satu bentuk reward dan juga menjadi salah satu alasan terkuat kenapa great employees stay.

 Peran manajer dalam pengembangan kemampuan tim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *