Nama saya terdiri dari tiga kata. Diawali dengan Giri, lalu disambung dengan Narasoma, dan diakhiri denganSuhardi. Giri berarti Gunung, Narasoma adalah nama ksatria di dunia perwayangan (Prabu Salya), yang menggambarkan kesetiaan, kesaktian dan dedikasi, dan Suhardi adalah nama ayah saya.  Saya tidak tahu arti kombinasi pemilihan kata tersebut, tetapi saya sangat yakin bahwa ayah saya memiliki doa di balik nama tersebut.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya berkata,” Gir, blog-mu bahasanya berat-berat eui. Sesekali ngomongin tentang diri lo sendiri. Ngapain ngomongin tentang orang lain mulu”. Hal itu membuat saya berfikir, ok kali ini saya akan menulis sesuatu tentang saya. Tetapi apa ya yang mau saya tulis? Terfikir di otak, saya akan menulis tentang suhardi, papa saya dan nama belakang saya. Bercerita tentang papa, bukan berati saya lupa akan kehadiran mama. Suatu saat saya akan menulis juga tentang mama saya.

Papa saya adalah orang yang luar biasa buat saya. Sejak kecil, saya dan saudara-saudara saya dididik dengan sangat tegas dan penuh kesantunan. Sebagai anak kecil, ya terkadang kita belum bisa menangkap keinginan positif dari orang tua. Papa saya selalu mendorong anak-anaknya untuk berprestasi. Ya, terkadang hari pembagian rapor menjadi hari yang menakutkan jika ranking 1 tidak bisa diraih. Jelas, seribu tanda tanya dan beberapa peringatan kecil akan datang menghampiri jika tidak bisa meraih nilai yang baik.

Papa juga mengajarkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang sangat mendalam untuk saya. Seringkali jika kita melakukan kesalahan kecil dalam hal bertanggung jawab, wah bersiaplah menghadapi ketegasan dari papa. Karena belum bisa berjiwa besar (ya, namanya juga anak-anak), saya pernah berencana kabur dari rumah karena sesuatu hal. Saya sudah menaruh baju-baju saya dalam tas (saya ingat sekali, saya meminjam tas alpina kakak saya yang berwarna merah), dan telah pergi bersepeda keluar dari kompleks perumahan. Namun, karena bingung mau kemana, terpaksa akhirnya kembali lagi ke rumah. Mengingat masa itu, sungguh penuh kenangan dan sangat memorable.

Giri Suhardi

Perlahan, seiring berjalannya waktu, saya sangat merasakan hasil positif dari didikan ayah saya. Prestasi, yang dulu terasa sebagai tuntutan, kini seolah menjadi kebutuhan. Ketika saya pindah ke SMU N 3 Bandung, prestasi mengkilap yang biasa saya dapat di Palembang, seolah-olah lenyap. Jangankan  10 besar, masuk 20 besar saja terasa susah. Jujur saya, itu terasa sangat menyakitkan. Ketika prestasi menjauh dari kita, seolah ada bagian yang hilang dari diri. Saya selalu berusaha untuk bisa meningkatkan kemampuan agar bisa berdiridengan baik.

Ketika saya ingin masuk kuliah, saya sama sekali tidak punya gambaran mau masuk jurusan apa. Pilihan pertama Teknik Kimia ITB, saya pilih pun karena saya ingin meneruskan jejak ayah saya, yang juga lulusan dari Teknik Kimia (meskipun bukan dari ITB). Sungguh sebenarnya ada perasaan bersalah ketika saya gagal menembus pilihan pertama. Saya merasa ada yang tidak seharusnya terjadi. Namun kini saya yakin, Allah SWT telah menggariskan takdirnya yang terbaik buat saya untuk menjadi bagian dari Arsitektur ITB.

Rasa tanggung jawab, sikap menghormati apa yang menjadi hak orang lain, kedisplinan dan kerja keras; adalah bagian dari didikan papa saya, yang selalu saya jaga dalam hidup ini. Baru terasa sekarang, apa yang sebenarnya orang tua harapkan dan terapkan pada saya, semenjak saya masih kecil. Didikan Punishmentterhadap kesalahan yang kecil membuat saya terpacu untuk selalu menghindari kesalahan atau kebodohan sekecil apapun itu. Ketika etos hidup unggul telah ditanamkan sejak kecil, saya yakin itu akan tumbuh mengiringi langkah saya sebagai seorang manusia, sampai kapanpun jua.

Tak lupa papa saya juga mengajarkan sikap nasionalisme yang tinggi. Pernah suatu hari bercanda ketika zamanbank rushing, “Papa, kalau suatu saat Indonesia colaps, kita mau pindah ke negara mana? “. Papa saya menjawab, “Ya, kita tetap tinggal di Indonesia”. Singkat.. Tapi saat bermakna!

Seperti keluarga Kalla dan Bakrie yang menaruh nama keluarga di belakangnya, saya juga berniat mengikutinya. Haji Kalla memiliki anak, Jusuf Kalla, yang juga meneruskan nama keluarga ke Solichin Kalla, dan saudari-saudarinya. Achmad Bakrie, yang memiliki anak Aburizal Bakrie, meneruskan ke Anindya Bakrie, Anindita Bakrie dan Anindra Bakrie. Meskipun nama papa saya tidak se-”besar” mereka, papa saya adalah orang besar untuk saya dan orang yang paling perpengaruh besar dalam hidup saya. Pengorbanan dan didikan papa saya sangat luar biasa, disamping jasa mama saya yang ikut menyempurnakan arti orang tua buat saya. Sebagai wujud cinta, saya akan sangat bangga meneruskan nama suhardi di belakang nama anak-anak saya kelak. Mereka harus bangga nantinya untuk berkata, “Nama Belakangku Suhardi”.

Suatu kalimat yang selalu saya ingat dari papa saya, “kalau punya cita-cita, wujudkanlah sekuat mungkin. Jangan apa-apa, udah menyerah duluan!“. Semoga saya bisa belajar dari kedua orang tua saya, dan kelak bisa menjadi orang tua yang baik untuk para penerus keluarga.