Menjadi pengusaha atau karyawan

Menjadi Pengusaha atau Karyawan

Menjadi pengusaha atau karyawan? Mungkin kalimat ini sering muncul di dalam benak kita. Mempertanyakan keyakinan kita, apakah ingin tetap di kuadran E atau berpindah ke kuadran lain (B, S, atau I) jika mengacu pada Buku Robert Kiyosaki. Di beberapa media massa dalam beberapa tahun terakhir, selalu disebutkan Indonesia kekurangan pengusaha. Dari 250 juta populasi, hanya 1,56% yang menjadi pengusaha (sumber: Republika).  Di negara tetangga, Singapura, rasio pengusaha terhadap populasi sudah mencapai 7%, Malaysia sudah 4%, dan Vietnam 3,4%. Dari sebuah survei di Kompas, hampir 46% mahasiswa bercita-cita menjadi pengusaha.

Sering disebutkan, jika ingin mencapai financial freedom, maka menjadi pengusaha adalah jawabannya. Menjadi pengusaha akan memberikan kebebasan dan fleksibilitas waktu. Menjadi karyawan dianggap sebagai pilihan aman dalam menjalani kehidupan. Bermimpi menjadi karyawan selamanya dianggap rendah. Karyawan dianggap tidak berani ambil resiko. Padahal dalam sebuah perusahaan, seringkali keputusan yang diambil karyawan terutama C-Suites mempengaruhi jalannya sebuah organisasi bisnis dan nasib ribuan para pencari nafkah.

Bagi saya, setiap orang bebas untuk memilih, apakah menjadi pengusaha atau karyawan. Tidak ada profesi yang lebih rendah. Tidak perlu untuk diperdebatkan satu sama lain apalagi direndahkan. Selama itu halal dan diraih dengan cara yang benar, setiap pilihan itu baik. Setiap pilihan akan memberikan konsekuensi dalam hidup.

Menjadi pengusaha atau karyawan
Cashflow Quadran (source:http://masterpassiveincome.com)

 

Ada banyak teman saya yang meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan untuk menjadi pengusaha. Beberapa dari mereka sudah menjadi pengusaha yang mandiri dan sehat secara finansial. Bisnis mereka berjalan dengan baik dan diterima dengan baik oleh pasar. Namun, jujur saja, jumlahnya sangat sedikit. Beberapa teman saya yang meninggalkan posisi mereka dari karyawan menjadi pengusaha, kemudian berbalik arah dan menjadi karyawan lagi. Tipe yang kedua ini lebih banyak dari yang pertama. Namun, lebih banyak lagi teman saya yang meninggalkan pekerjaan mereka demi menjadi pengusaha dan kemudian mereka masih mencari bentuk business model yang sustain. Bisnis mereka terus berganti karena kegagalan terus menghampiri.

Menjadi pengusaha merupakan sebuah pilihan yang harus diperhitungkan dengan teliti. Saya suka salah satu rencana founder fin-tech startup ternama di Indonesia. Dia bilang, kalau dalam 1 tahun saya gagal di bisnis ini (startup), saya akan menjadi karyawan lagi. Dia pernah bekerja di berbagai bank dan lembaga keuangan besar. Sudah pasti remunerasi yang ia terima besar. Namun, dia berani mengambil keputusan menjadi pengusaha. Ketika dia ditanya bagaimana dia memutuskan untuk menjadi pengusaha. Dia bilang,”Ya saya sudah mempersiapkan uang operasional bulanan bagi keluarga saya untuk 1 tahun ke depan. Jadi, jika saya tidak berhasil menghasilkan revenue 1 tahun ke depan, saya tahu apa yang harus saya perbuat”. Syukur dia kemudian berhasil menjadi pengusaha sukses.

Menjadi pengusaha hanya untuk gagah-gagahan atau biar terlihat keren menurut saya adalah sebuah kerugian. Menjadi pengusaha hanya untuk mengejar kata-kata financial freedom juga patut dipertanyakan. Menjadi karyawan juga menuntut pemahaman resiko dan tingkat kompleksitas dan keilmuan yang sama rumitnya. Menjadi pengusaha atau karyawan bukanlah sesuatu untuk ditanyakan ke orang lain, apalagi jika digunakan untuk mengolok-olok, “Ngapain lo masih jadi karyawan aja?”.

Menjadi pengusaha atau karyawan berbicara mengenai masa depan pribadi dan keluarga (jika sudah punya pasangan dan keturunan), dan hal lainya. Banyak yang gagal menjadi pengusaha. Banyak pula yang berhasil. Banyak juga yang gagal menjadi karyawan yang berprestasi. Banyak pula yang berhasil. Menjadi pengusaha membutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang kompleks serta determinasi dan kegigihan yang tinggi. Menjadi karyawan juga membutuhkan kemampuan yang tidak kalah kompleksnya.

Ketika seseorang yakin ingin menjadi pengusaha, bagi saya penting untuk dia meyakini bahwa inilah pilihan terbaik. Bukan, misalnya, karena sakit hati dengan bos atau karena iri melihat teman menjadi pengusaha. Bisa jadi seseorang sukses menjadi pengusaha karena skill mereka sudah tepat, produk mereka tepat guna di saat yang tepat, mereka punya modal yang cukup, dan/atau mereka punya network atau link yang luas.

Banyak kisah karyawan hebat yang memberikan dampak luar biasa kepada sebuah organisasi yang didalamnya ada ribuan orang mencari nafkah.  Menjadi karyawan sampai masa pensiun adalah sebuah cita-cita yang baik, sama seperti menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha atau karyawan adalah salah satu fase penting dalam hidup. Perlu perhitungan matang untuk fase ini. Kegagalan dalam memutuskan fase ini bisa berdampak besar di masa depan. Jadi, menjadi pengusaha atau karyawan? Pilihlah dengan bijak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

One thought on “Menjadi pengusaha atau karyawan