Mengajarkan dan melakukan

Mengajari dan melakukan

Mengajarkan dan melakukan adalah 2 hal yang berbeda. Saya ingin berbagi pandangan saya mengenai kegiatan mengajarkan dan melakukan berdasarkan pengalaman saya dan juga hasil diskusi dengan beberapa sahabat.

Suatu hari saya  mencari kata ‘do teach’ di mesin pencari Google, menarik sekali melihat rekomendasi gambar (image) yang muncul: banyak gambar dengan kutipan “Those who can, do. Those who can’t, teach”. Ini tentu bukan cerita yang baik untuk para pengajar. Pengajar, dalam artikel ini, adalah semua orang yang mengajarkan sesuatu hal, tidak hanya terkait profesi seperti guru atau dosen. Artikel ini ingin membicarakan secara singkat pandangan saya mengenai kegiatan mengajarkan dan melakukan yang ternyata bisa saling berbeda, saling mengisi, atau saling menguatkan.

Mengajarkan dan melakukan
sumber foto: https://heathershambles.files.wordpress.com

Saya pernah punya seorang kolega kerja yang rutin mengajarkan risk management. Dia bekerja di bagian support dan sering kali memberikan kelas mengenai manajemen resiko kepada para karyawan. Dia menceritakan mengenai resiko-resiko yang muncul dalam pekerjaan, apa dampaknya, dan bagaimana cara untuk menghindari dan memitigasinya. Dia selalu mengingatkan para karyawan agar selalu memenuhi SOP (Standard Operating Procedure) guna menghindari resiko buruk. Suatu hari, dia diberikan sebuah projek khusus diluar dari pekerjaan rutinnya. Apa yang terjadi? Dia melewati atau tidak menjalani beberapa langkah pelaksanaan standar sehingga menimbulkan beberapa kerugian untuk dirinya sendiri dan tim lain. Seseorang yang setiap harinya mengajarkan mengenai risk management, ternyata ketika diminta untuk melakukan sesuatu, malah tidak melakukan manajemen resiko dengan baik.

Seorang sahabat saya dulunya berprofesi untuk mengajarkan mengenai marketing sehari-hari. Dia mengajarkan mengenai 360 marketing, iklan-iklan yang kanonik, promosi ATL dan BTL yang dahsyat, dan banyak mengambil contoh marketing management dari perusahaan ternama seperti Apple, Coca-cola, dan lain sebagainya. Dia sering mengkritik anak didiknya yang tidak ‘kreatif’ dalam marketing. Dia selalu mendorong anak-anak didiknya untuk melakukan apa yang telah diajarinya. Suatu hari, sahabat saya ini dimintakan untuk mengurus pemasaran / marketing sebuah produk. Kita mungkin akan berfikir, dia pasti berhasil karena dia sudah sangat ahli dalam dunia marketing. Ternyata memang, mengajarkan dan melakukan itu tidak selalu terkait. Dia gagal total memimpin divisi marketing perusahaan tersebut.

Untuk menerapkan apa yang diajarkannya di dunia profesional ternyata tidak mudah. Strategi pemasaran yang kreatif dilakukan oleh Apple tidak mudah diimplementasikan di tempatnya bekerja. Dia mengalami banyak hambatan ketika hendak menerjemahkan ide-idenya ke dalam realisasi. Ketika mengajarkan dia hanya fokus pada satu dimensi, maka ketika melakukan dia harus bernegosiasi dengan banyak faktor atau dimensi. Ternyata, untuk membuat iklan yang kreatif, dia harus meyakinkan seluruh eksekutif. Kultur atau budaya kreatif belum mendarahdaging di perusahaan tersebut. Mengubah kultur sebuah perusahaan jelas tidak mudah. Tidak hanya itu, ketika eksekutif sudah menyetujui, dia kembali menemui hambatan berupa tenggat waktu yang singkat, kapasitas sumber daya yang rendah, dan biaya produksi yang mahal. Ternyata untuk mengaplikasikan apa yang diajari itu tidak mudah. Mengajarkan dan melakukan tidaklah selalu sama.

Saya punya seseorang sahabat lainnya yang rutin mengajarkan mengenai leadership. Dia mengajarkan mengenai tipe-tipe kepemimpinan, kepemimpinan yang efektif, dan lain sebagainya. Ketika suatu hari dia ditunjuk sebagai leader pada sebuah divisi, dia berfikir dia akan melewati ini dengan mudah karena dia merasa tahu segalanya. Ternyata dia salah. Dia menjadi salah satu manager yang tidak disukai oleh anak buahnya dan mendapatkan paling banyak penolakan. Menerapkan ilmu mengenai leadership yang tepat itu tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika di pengajaran, dia hanya berbicara dari sisi relationship antara bos dan anak buah, maka di realisasi dia harus berhadapan dengan silent leader, urusan perut, dan lain sebagainya.

Mengajarkan dan melakukan

Melihat sampel di atas (yang sedikit), kita bisa mendapatkan gambaran kecil bahwa tidak selamanya mengajarkan itu bisa diduplikasi dengan mudah pada proses melakukan. Meskipun begitu, saya punya beberapa sahabat, yang juga berprofesi sebagai pelaku bisnis dan pengajar (paruh waktu) pada saat yang bersamaan. Mereka cemerlang di proses mengajarkan dan proses melakukan.  Mereka mengajarkan mengenai teori-teori baru yang ideal namun di saat bersamaan juga menggambarkan kesulitan-kesulitan yang umum ditemui di lapangan dan bagaimana menghadapinya.

Melalui artikel ini, saya ingin menyampaikan bahwa bisa ada gap antara mengajarkan dan melakukan. Seseorang yang mengajarkan sesuatu belum tentu bisa melakukannya dengan baik. Dan seseorang yang melakukan sesuatu belum tentu bisa mengajarkan dengan baik. Kita yang mendapatkan peran sebagai pengajar, harus mampu melihat secara komprehensif dan bahkan mau untuk belajar melakukannya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memaknai sesuatu secara utuh. Kita yang mendapatkan peran sebagai pelaku, harus mau untuk belajar terus teori-teori terbaru guna menghindari trial and error yang panjang dan mencapai kondisi ideal melalui proses yang efektif dan efisien.

Mengajarkan dan melakukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *