Membandingkan Pemimpin

Membandingkan Pemimpin

Membandingkan sesuatu adalah hal yang lumrah. Seringkali kita melihat orang membandingkan antara produk yang satu dengan produk lainnya. Sering kita tonton di sinetron, orang tua membandingkan anak yang satu dengan anak yang lainnya. Di majalah-majalah, sering juga kita melihat penulis membandingkan produk-produk pada bagian product review. Membandingkan pemimpin.

Di dunia bisnis, lumrah dilakukan benchmarking untuk membandingkan sebuah hal terhadap hal lain guna menilai apakah produk, servis, proses, SDM, dll kita lebih unggul dibanding pesaing. Ada yang namanya strategic benchmarking, performance benchmarking, atau process benchmarking. Ada pula yang membaginya menjadi internal benchmarking, functional benchmarking, competitive benchmarking, dan generic (best practice) benchmarketing.

Membanding-bandingkan merupakan sebuah proses untuk melihat persamaan atau perbedaan antara dua hal atau lebih. Dengan melihat persamaan dan perbedaan, kita bisa menelaah kelebihan atau kekurangan dari hal yang diperbandingkan. Dari hasil membandingkan tersebut, kita bisa melakukan perbaikan dan peningkatan terhadap hal yang masih dirasa kurang.

Membandingkan Pemimpin

Satu hal yang sering kita lihat akhir-akhir ini adalah bagaimana orang seringkali membandingkan pemimpin. Membandingkan antara pemimpin di negara A dengan pemimpin di negara B, atau membandingkan pemimpin di organisasi A dengan di organisasi B, atau bahkan membandingkan pemimpin di periode ini dengan periode di masa lalu.

Buat saya, membandingkan pemimpin tidaklah salah. Dengan membandingkan pemimpin, kita (termasuk pemimpin itu sendiri) bisa belajar bagaimana untuk menjadi lebih baik lagi. Dengan membandingkan pemimpin, kita bisa tahu bagaimana untuk menghindari sebuah kesalahan demi sebuah proses yang lebih efektif.

Membandingkan Pemimpin
Membandingkan Pemimpin (sumber: https://pixabay.com/p-598036/?no_redirect)

Hanya saja, di dalam proses membandingkan itu, data yang disajikan haruslah objektif. Seringkali kita melihat data perbandingan tetapi niatnya lebih untuk menjerumuskan atau mengangkat keburukan-keburukan seorang pemimpin. Sedih sekali jika kita melihat ada orang yang menggunakan kepintarannya untuk membodohi orang dengan menampilkan data-data yang bias.

Membandingkan kesejahteraan yang terjadi di era Orde Baru dengan kepemimpinan kini (katakan Pak SBY dan Pak Jokowi) dengan hanya menampilkan harga sembako itu tidak adil. Membandingkan kurs US dollar terhadap Rupiah yang dulu hanya 2.000 dan kini yang mencapai 13.000, tanpa menginformasikan kondisi makro lainnya cenderung menyesatkan.

Satu hal yang sering membedakan kebijakan seorang pemimpin dengan pemimpin lainnya adalah waktu. Waktu yang terjadi ketika si A memimpin sudah pasti akan berbeda dengan waktu yang terjadi ketika si B memimpin. Tantangan yang terjadi jelas berbeda. Ancaman yang terjadi juga berbeda. Momentum yang terjadi juga berbeda. Seringkali sangat berbeda. Membandingkan bagaimana Pak SBY dan Pak Jokowi merespon subsidi minyak tanpa menyajikan data yang lengkap juga tidak bijak. Di era Pak SBY, harga minyak menyentuh $100an per barel. Jokowi mendapatkan berkah ketika harga minyak anjlok menjadi $40an per barel sehingga lebih leluasa mengatur alokasi subsidi. Di era Pak Soeharto, boro-boro ada berita hoax. Media besar saja bungkam. Jika kemudian ada orang yang mengangkat isu membandingkan berita hoax di jaman Jokowi (banyak hoax) dan masa orde baru (minim hoax), menurut saya itu sangatlah tendensius.  Saya tidak mengerti apakah orang tersebut menginginkan kebebasan berpendapat di negara ini kembali dibungkam atau dia hanya memanfaatkan ‘kecerdasan’-nya demi kepentingan pihak tertentu.

Memimpin di organisasi A jelas berbeda dengan memimpin di organisasi B. Membandingkan kedua pemimpin tanpa melihat kondisi mendetail kedua organisasi tersebut sangat konyol. Budaya, kondisi sosial politik, kesehatan finansial organisasi, suasana pengembangan (SDM) di organisasi A akan berbeda dengan B. Hanya membandingkan hasil kerja atau hasil proses antara pemimpin A dan B dalam kurun periode waktu yang sama jelaslah tidak sebanding. Misalnya, si B berhasil karena organisasi dia memiliki sistem atau kultur SDM yang baik sejak dulu. Sementara Si A harus membangun kultur tersebut dari 0.

Seringkali seorang pemimpin menjadi berhasil, karena pemimpin sebelumnya sudah meletakan dasar-dasar yang baik. Banyak pula pemimpin yang harus memulai dari nol (bahkan minus) karena pemimpin sebelumnnya tidak membuat sebuah warisan yang positif atau malah meninggalkan hal yang merusak. Apa yang dihadapi oleh seorang pemimpin saat ini tidaklah lepas dari kinerja pemimpin sebelumnya. Membandingkan pemimpin sekarang dengan pemimpin sebelumnya secara parsial hanya akan mendegradasi informasi. Alangkah bijaknya jika seseorang / kelompok membandingkan pemimpin secara detail dan edukatif; bukan malah menyesatkan demi kepentingan golongan. Mari kita bangun iklim komunikasi yang edukatif dan konstruktif demi Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *