Menulis di Lomba #NewMyBlueBird

Lomba #NewMyBlueBird

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan email mengenai lomba menulis #NewMyBlueBird. Saya mendapatkan email tersebut karena saya masuk ke dalam sebuah jaringan blogger. Email tersebut mengajak para blogger untuk menulis mengenai fitur mobile apps Blue Bird yang baru. Hadiah utama dari Lomba #NewMyBlueBird ini sangat menarik, yakni Rp 8.000.000. Lumayan untuk membeli 1.000 liter bahan bakar beroktan 92.

Saya kemudian mencari posting-an para blogger yang menggunakan tagar #NewMyBlueBird. Ternyata sudah banyak blogger yang berpartisipasi di lomba #NewMyBlueBird ini. Dari sekitar 10 sampel artikel yang saya baca, semuanya menulis hal yang intinya sama yakni keunggulan mengenai keunggulan mobile app Blue Bird yang baru yakni: App baru ini memungkinkan kamu untuk pesan taksi di waktu tertentu, mengetahui lokasi taksi terdekat, menilai supir taksi, berbagi informasi lokasi ke orang lain, estimasi harga, dan bisa menerima e-receipt. Namun, ada yang menambahkan bagian bagaimana cara meng-install app tersebut, ada pula yang menambahkan alasan kenapa kamu harus menggunakan taksi burung biru ini, dan sebagainya. Ya wajar saja, karena memang ajakan di lomba #NewMyBlueBird ini berbunyi “Ceritakan fitur mobile apps blue bird terbaru, berikan pendapatmu dan ceritakan fitur apa saja yang menurut kamu canggih dan fitur apa yang kurang atau belum ada”. Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini agar kiranya pandangan saya bisa sampai ke pihak Blue Bird. Apalagi akan banyak publik yang melakukan pencarian hashtag #NewMyBlueBird di kesempatan ini. Saya cukup yakin tidak akan menang mengingat saya tidak banyak menceritakan hal yang indah. Lomba #NewMyBlueBird

Lomba #NewMyBlueBird
Taksi Blue Bird (sumber foto: http://www.bluebirdgroup.com)

Sebelum tahun 2015, saya adalah pengguna rutin Blue Bird. Hampir selalu saya memesan taksi menggunakan application (app) Blue Bird. Saya menggunakan app karena saya termasuk technology-savvy dan berharap bisa melakukan e-monitoring (siapa supirnya, sudah dimana, dsb) melalui app. Meskipun begitu, bukan berarti saya menyukai app Blue Bird yang lama. Begitu banyak kekesalan yang saya alami, namun saya tidak punya pilihan lain. Beberapa isu yang sering terjadi pada app Blue Bird lama adalah masalah jaringan /  network sehingga tidak bisa memesan, waktu tunggu yang sangat lama (bisa sampai more than 6 attempts dan lebih dari 30 menit pada jam sibuk), tidak bisa meng-cancel order (karena jaringan juga), dan lain sebagainya. Belum lagi kalau sudah dapat taksinya, namun tiba-tiba order-nya menghilang. Entah karena supirnya mengambil penumpang lain atau karena isu jaringan juga. Dan ini terjadi bukan hanya satu atau dua kali saja. Memesan taksi Blue Bird, ketika itu, penuh ketidakpastian dan menghadirkan kecemasan.

Tahun 2015, saya mendapatkan sebuah pilihan moda transportasi yang baru yakni layanan transportasi berbasis aplikasi terutama Uber. Saya kemudian memberanikan diri mencobanya dan (sayangnya) kemudian menjadi kebiasaan. Sejak saat itu, saya hampir selalu memesan layanan transportasi berbasis aplikasi, kecuali untuk urusan kantor (karena mendapatkan voucher taksi Blue Bird). Ada banyak alasan saya menjadi pengguna rutin layanan transportasi berbasis aplikasi. Yang pertama jelas masalah harga. Mereka lebih murah daripada taksi konvensional. Tidak perlu ditanyakan kenapa harga ‘taksi’ aplikasi transportasi online bisa lebih murah. Jumlah variable cost yang ditanggung oleh mereka lebih sedikit dibandingkan taksi konvensional. Mereka tidak perlu menanggung biaya perawatan/maintenance mobil, tidak perlu membangun pool besar untuk menampung taksi, tidak perlu membangun kantor yang besar dan menggunakan tenaga kerja yang banyak, tidak perlu melakukan uji KIR dan melakukan pembayaran izin (saat itu), dan lain sebagainya. Ini menyebabkan cost yang dibebankan ke penumpang lebih sedikit dan harganya pun menjadi lebih murah. Berat untuk taksi konvensional bersaing dari sisi price leadershipLomba #NewMyBlueBird

Lomba #NewMyBlueBird
App My Blue Bird yang baru

Selain harga, keandalan (reliability) app dari layanan transportasi berbasis aplikasi menjadi faktor utama saya memilihnya. Waktu tunggu mereka lebih cepat daripada taksi konvensional. Saya pernah membaca di Kompas, ada penulis yang membandingkan waktu tunggu salah satu layanan transportasi berbasis aplikasi dan taksi konvensional di Australia dan hasilnya memang pemesanan via aplikasi transportasi online jauh lebih cepat. Melalui app tersebut, saya bisa melihat mobil yang sedang berada di dekat tempat saya sehingga saya tahu berapa lama waktu tunggu. Waktu tunggu mereka pun relatif lebih cepat. Saya tidak pernah menunggu kendaraan lebih dari 15 menit. Melalui app dari layanan transportasi berbasis aplikasi, kita bisa membayar melalui kartu kredit sehingga tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang. Inilah yang tidak dilakukan oleh Blue Bird sebelumnya.Lomba #NewMyBlueBird

Loncatan Baru Blue Bird

Tahun 2016 pun menjadi batu loncatan untuk Blue Bird. Sebelumnya, saya pikir Blue Bird sama sekali tidak akan melakukan perubahan yang signifikan untuk app mereka. Ternyata saya salah. Blue Bird mengeluarkan app baru #NewMyBlueBird. Saya tidak tahu apakah Blue Bird melakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dari layanan transportasi berbasis aplikasi atau mereka memang sudah merencanakan desain app mereka yang baru ini sejak lama karena beberapa fitur app Blue Bird sangat mirip seperti See Nearby Taxi, Driver Rating, Share My Journey, Tracking System & Call Driver, dan Fare Estimation & E-Receipt. Ya mungkin saja memang ini kebutuhan dasar seorang pengguna transportasi publik. Terlepas mirip karena mencontek atau tidak, saya tetap angkap topi untuk Blue Bird. Mereka berani melakukan perubahan. Lomba #NewMyBlueBird

To improve is to change; to be perfect is to change often – Winston Churchill

Selain app baru, Blue Bird juga melakukan beberapa penyesuaian harga. Minimum payment hanya Rp 20.000*, Tarif buka pintu turun menjadi Rp 6.500, dan tarif taksi turun menjadi Rp 3.500 per km. Penurunan ini bisa terjadi karena turunnya harga minyak dan juga penyesuaian strategi bisnis dari Blue Bird. Menjadi menarik sekali menyimak persaingan aplikasi transportasi online dan Taksi Blue Bird baik dari kacamata pelayanan, strategi bisnis, maupun tranformasi digital. Lomba #NewMyBlueBird

Melalui kesempatan menulis di Lomba #NewMyBlueBird, saya sekedar menyampaikan uneg-uneg saya. Blue Bird menghadapi persaingan yang sengit secara horisontal (terhadap sesama taksi konvensional) dan vertikal (terhadap bentuk model bisnis yang berevolusi). Fitur-fitur dari App baru Blue Bird memudahkan masyarakat dalam melakukan reservasi taksi seperti bisa memesan lebih dari 1 taksi, bisa memesan di waktu tertentu, melihat progres perjalanan taksi, mengestimasi biaya perjalanan, dan mendapatkan e-receipt. Tetapi, harusnya selalu ada ruang bagi Blue Bird untuk melakukan pembenahan dan peningkatan baik dari sisi pelayanan maupun teknologi informasi. Lomba #NewMyBlueBird

Pelayanan Blue Bird Perlu Berbenah

Banyak supir aplikasi transportasi online yang tidak mengetahui rute menuju destinasi yang ingin kita tuju. Sayangnya, tidak sedikit pula supir Blue Bird yang sama tidak tahunya juga. Padahal Blue Bird bisa mengambil competitive advantage sebagai penyedia moda transportasi yang handal dimana semua supir Blue Bird bisa tahu jalan / rute yang tepat. Akan lebih menarik jika supir Blue Bird bahkan bisa memberikan masukan pilihan jalan mana yang ingin diambil, layaknya seorang konsultan. Kalau ambil rute A, resikonya X dan kalau ambil rute B, ya resikonya Z. Ini bisa difasilitasi melalui pemberian GPS atau pelatihan mengenai jalanan kota. Tidak mudah memang melatih supir yang jumlahnya ribuan.

Buat saya, sistem rating yang ada di App baru Blue Bird cukup kontraproduktif. Sebagai entitas bisnis yang sudah terkenal akan keramahan dan kejujuran, sudah seharusnya semua supir Blue Bird mampu melayani penumpang dengan baik dan benar. Mungkin cukup dibuatkan tombol ‘tidak puas’ atau ‘help‘ di app jika ternyata supirnya bertindak tidak sopan dan tidak pada tempatnya, dan kemudian pengguna app bisa memasukkan komentar atau foto terkait ketidaknyamanan tersebut. Sistem rating akan membuat kerancuan dalam penilaian kualitas seorang supir. Tidak ada definisi yang jelas kapan seorang penumpang harus memberikan bintang 5, kapan bintang 4, dan seterusnya. Jika ini digunakan sebagai indikator penilaian kualitas supir, ini hanya akan merugikan seorang supir Blue Bird jika dia menarik banyak penumpang yang kemudian hanya memberi bintang 3 untuk sebuah pelayanan bintang 4. Lomba #NewMyBlueBird

Lomba #NewMyBlueBird
Lomba #NewMyBlueBird

App baru dari Blue Bird ini pun masih sering mengalami kendala seperti hang. Saya pernah memesan taksi dan yang terjadi hanya muncul simbol loading (lingkaran) tanpa ada respon apa-apa. Janji metode pembayaran lain masih belum bisa diprediksi kapan munculnya (mungkinkah tahun depan atau 5 tahun lagi?). Sebuah gebrakan yang terlihat menggebrak namun tak seindah yang dibayangkan. Blue Bird harus bekerja lebih keras dan lebih cepat menghasilkan keunggulan-keunggulan yang nyata dan signifikan.

Fitur menarik lainnya yang mungkin bisa ditambahkan di app adalah manfaat untuk keluarga. Jadi, seseorang (kepala keluarga) bisa menanggung biaya taksi anggota keluarganya, bisa memesankan untuk anggota keluarganya yang lain, dan bisa melakukan pengecekan perjalanan rute anggota keluarganya. Keamanan menjadi salah satu isu yang penting dan seksi (baca:bisa dijual) di Indonesia Raya yang memiliki koefisien Gini 0.4 (sumber:CNN). Untuk bisa menanggung biaya taksi anggota keluarga lainnya, jelas metode pembayaran ‘bukan tunai’ harus disertakan pada app ini. Sepemahaman saya, Blue Bird memang merencanakan untuk pilihan metode pembayaran kartu kredit dan e-voucher. Mudah-mudahan bisa direalisasikan dalam waktu segera.

Dengan adanya history pada app Blue Bird, sungguh menggiurkan jika seseorang yang sudah menggunakan taksi Blue Bird selama 40 perjalanan (dengan jumlah KM tertentu) dalam waktu 1 bulan diberikan status Gold Member atau mendapatkan poin tertentu layaknya frequent flyer salah satu maskapai nasional Indonesia. Semakin besar poin, semakin banyak manfaat atau hadiah yang bisa diterima oleh penumpang, misalnya prioritas mendapatkan taxi, kredit perjalanan sebesar beberapa ratus rupiah, minuman gratis, dan sebagainya. Sederhana tetapi bagi saya cukup personal dan menyenangkan. Lomba #NewMyBlueBird

Akhir kata, app itu hanyalah salah satu tool untuk akses pelayanan Blue Bird. Yang menjadi kekuatan utama dari Blue Bird adalah pelayanan yang ramah dan dapat diandalkan dalam mengantarkan seseorang dari satu titik ke titik lainnya. Pengurangan biaya taksi mungkin masih bisa dilakukan melalui proses efisiensi seperti Six Sigma atau Lean Operation. Jika layanan transportasi berbasis aplikasi tidak dianggap ilegal di masa depan dan Blue Bird mengalami kesulitan untuk bersaing dari sisi harga, Blue Bird harus mampu memberikan janji transportasi yang ramah, cepat, jujur, aman, dan dapat diandalkan plus revolusioner. Ketika brand equity Blue Bird dapat dikawal dengan baik, saya yakin pangsa pasar dari Blue Bird akan terus terjaga dan malah akan meningkat. Lomba #NewMyBlueBird

Lomba #NewMyBlueBird

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

4 thoughts on “Menulis di Lomba #NewMyBlueBird