Kesebelasan Pemain Idola

Saya pertama kali bermain sepakbola ketika masih duduk di SD. Dulu, bermain sepakbola, kalau tidak di jam olah raga sekolah, ya di kejuaraan RT anak-anak di Kompleks Pusri Palembang. Meskipun bermain bola sejak masih SD, skill saya ya disitu-situ saja. Tidak pernah menanjak. Yang ada mungkin malah menurun.

Ketika masih SD atau bermain di kejuaraan anak-anak RT, posisi saya bek. Biasanya kalau ada orang yang kurang jago bermain sepakbola tapi ingin terlibat di permainan, ya dijadikan bek. Selama bisa melakukan tackle, membuang bola ke luar, umpan secukupnya, badan cukup besar, sok main badan, mau lari sana sini; sudah pasti posisi bek bisa diraih.

Naik ke SMP, posisi saya masih bek. Biasa bek tengah atau bek kiri. Skill-nya sudah pas-pasan sekali. Kelas 1 SMA pun masih menjadi bek. Kelas 2 SMA secara tidak sengaja dijadikan kiper di kompetisi sekolah. Itu pun gara-gara tidak ada yang mau menjadi kiper. Jadi kiper pun tidak keren-keren amat. Membuat 2 blunder yang berakibat gol sepanjang kompetisi. Kelas 3, agak naik menjadi pemain tengah. Alasannya pemain belakang sudah numpuk. Sudah ada 5 pemain belakang. Tidak lucu kalau ada kesebelasan yang bermain dengan 6 bek (kecuali tim Jose Mourinho). Di kelas 3 inilah saya mencetak gol pertama saya di sebuah kejuaraan atau kompetisi resmi. Ketidaksengajaan membuat gol ini membuat saya ditaruh sebagai striker. Alasannya simpel: Tidak ada penyerang yang handal. Tidak disangka, saya bisa mencetak gol lagi dan nama saya ada di daftar pencetak gol kompetisi sekolah dengan koleksi 2 gol. Senang sekali rasanya.

Tim RT anak-anak (saya berbaju spiderman)

Ketika masuk kuliah, posisi bermain semakin tidak jelas. Mau jadi bek, tetapi sudah ada teman yang berbadan besar dan lebih jago. Mau bermain di lini tengah dan depan, ya sudahlah mau gimana. Tapi mungkin karena teman-teman iba melihat saya sudah aktif, saya selalu dimainkan dengan posisi mungkin hanya untuk memenuhi kuota. Dalam sebuah kompetisi futsal kampus, saya dijadikan starter dengan posisi penyerang. Alasannya (lagi-lagi) simpel. Yang jago mengolah bola sudah ditaruh sebagai pemain tengah sehingga tidak ada pemain depan. Plus, perasaan empati dari teman-teman mungkin. Tak disangka, di kompetisi itu saya mencetak 1 gol ke gawang anak Tambang. Keren kan? Di kompetisi jurusan, saya kembali mencetak gol. Jadi, total gol saya di sebuah kompetisi resmi berjumlah 4 buah. Ya tidak buruk lah untuk seorang yang sebenarnya tidak bisa bermain sepakbola.

Meski tidak jago bermain sepakbola, saya menyukai menonton pertandingan sepakbola dan mengagumi beberapa pemain sepakbola. Berikut adalah sususan kesebelasan formasi 4-3-3 dengan pemain idola saya.

Kiper: Fabien Barthez
Saya punya dua sosok kiper idola yakni Barthez dan Peter Schmeichel. Namun, saya lebih memilih Fabien Barthez karena gayanya yang asik dengan beberapa penyelamatan gemilang, meski sering juga membuat blunder.

Bek Kiri: Roberto Carlos
Rasanya semua anak tahun 90-2000an yang suka bermain sepakbola setuju bahwa Roberto Carlos adalah bek kiri modern terkeren, disamping Ashley Cole. Tendangan pisangnya ke gawang Barthez sangat fenomenal dan pahanya yang besar menjadi rahasianya untuk sangat mumpuni dalam bertahan dan menyerang

Bek Tengah: Paolo Maldini
Pemain idola. Tidak ada kata yang bisa mewakili kekaguman saya terhadap Paolo Maldini. Kapten Milan. Hanya bermain untuk 1 tim: AC Milan. Tangguh dan cerdas. Ketika muda bermain di sisi kiri dengan kekuatan dan ketika tua bermain di tengah dengan pengalaman. Best defender in the earth ever!

Bek Tengah: Alessandro Nesta
Saya bingung memilih antara Terry, Stam, Ferdinand, atau Tony Adams. Mereka bek tengah terbaik di klub nya. Namun, saya mengagumi seorang Nesta dalam bertahan. Termasuk salah satu bek yang cakap dan cerdas dalam menghadapi penyerang. Bek terbaik Milan dan Itali setelah seorang Maldini. Cocok bermain bersama Maldini.

Bek Kanan: Carlos Puyo 
Saya punya masalah di bek kanan jika bicara idola. Mungkin karena saya jarang bermain sebagai bek kanan, saya tidak mempunyai pemain bola bek kanan yang saya idolai sekali. Ya, kita bisa bilang bahwa mungkin Thuram, Cafu, Neville, Zanetti, Lahm, atau Alves termasuk terbaik di zamannya. Di antara sosok bek kanan yang tidak begitu saya idolai, saya menyukai Puyol atas determinasi dan kerja kerasnya. Puyol fasih di bek kanan, sebelum akhirnya menjadi bek tengah.

Pemain Tengah: Zvonimir Boban
Sebagai fans AC Milan, ya saya sering menonton laga Milan. Satu pemain tengah yang skill nya oke dan visioner dalam permainan adalah Zvonimir Boban. Gayanya yang selalu mengeluarkan baju menjadi trademark seorang Boban. Umpan-umpan jarak jauh dan penetrasinya memberikan warna pada permainan Milan.

Pemain Tengah: Steven Gerrard
Selain Paolo Maldini, Steven Gerrard adalah pemain sepakbola yang saya sangat kagumi dan idolai. Jarang terlibat dalam masalah atau isu miring. Dari seorang bek kiri kemudian menjadi pemain tengah yang komplit: bertahan, mengumpan, dan mencetak gol. Musim bersama Torres dan Suarez adalah musim terbaik baginya. Sayang, Gerrard tidak pernah memenangkan EPL. Tapi, tetap seorang kapten Liverpool yang terbaik!

Pemain Tengah: David Beckham
Salah satu pemain sepakbola yang saya miliki biografinya. David Beckham, bagi saya, adalah seorang contoh pekerja keras. Hasilnya, seorang pemain sepakbola yang mampu memberikan umpan akurat dan terukur. Tidak memiliki skill dan speed seperti suksesornya (Cristiano Ronaldo), David Beckham tetap menjadi sosok pesepakbola yang dikagumi baik di lapangan maupun di luar dunia sepak bola.

Pemain Depan: Alessandro Del Piero
Ketika saya kecil, saya punya beberapa poster Del Piero. Bahkan ketika bermain FIFA, saya selalu memainkan Alessandro Del Piero Togon; meskipun skillnya di game tersebut, tidak wah-wah amat. Tahun 1998 mungkin adalah tahun terbaik seorang Del Piero dengan koleksi gol yang lebih dari 20.

Pemain Depan: Filippo Inzaghi
Sempat bingung memilih antara Cantona, Fowler, atau Batistuta sebagai penyerang favorit. Tetapi saya menjatuhkan pilihan saya ke seorang Filippo Inzaghi. Inzaghi, menurut saya, adalah sebuah keajaiban. Badan kurus (mungkin karena itu sering jatuh/diving), kecepatan tidak seperti Ronaldo, gocek-gocek juga tidak seperti Messi, tendangan tidak sekencang Batigol; tetapi menurut saya dia adalah penyerang yang selalu hadir di tempat dan waktu yang benar dengan daya finsihing menakutkan. Kalau kita melihat gol-golnya, kita bisa mengetahui seberapa ‘luar biasa’ Inzaghi ini.

Pemain Depan: Michael Owen
Fenomena Liverpool pada tahun 1997. Kecil, lincah, cepat, dan memiliki insting finisher yang baik. Mengantarkan Liverpool meraih treble yakni UEFA Cup, Piala FA, dan Piala Liga. Golnya ke gawang Argentina pada Piala Dunia 1998 sangat berkesan. Sayang, karir gemilangnya tertutup dengan penuh kisah cedera.

Kesebelesan pemain idola

Kesebelasan ini mungkin bukan yang terbaik dari sisi strategi. Tapi kesebelasan ini berisikan pemain idola saya. Kesebelasan yang berisikan banyak kapten. Kapten AC Milan dan Itali. Kapten Barcelona. Kapten Kroasia. Kapten Inggris. Kapten Liverpool. Kapten Juventus. Mungkin salah satu kriteria saya mengidolai mereka adalah bagaimana mereka bersikap di dalam dan luar lapangan sehingga layak dijadikan panutan sebagai kapten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *