Home

January 18th, 2010
Comments Off

Selamat datang ke blog saya, www.girinarasoma.com
Sebuah blog berisikan karya pengamatan dan pemikiran penulis.
Terima kasih atas kunjungannya.

Dapat melihat hasil karya saya lainnya di:

Korespondensi bisa melalui email ke gnarasoma@yahoo.com
Selamat menikmati

gnarasoma Umum

Aku dan 2009

January 18th, 2010
Comments Off

2009.
Resolusi yang dibuat di awal tahun 2009, ternyata tidak semuanya berjalan mulus sampai dengan akhir 2009. Hanya dua dari lima resolusi yang berhasil dicapai. Jika diukur melalui kacamata statistika, artinya hanya 40% yang achieved. Meskipun begitu, saya menganggap tahun 2009 memberikan banyak dampak positif kepada saya.

Di tahun 2009, setidaknya saya memberanikan dan membiasakan diri untuk menulis pada media web-blog. Proses menulis membuat saya menyadari ternyata masih banyak hal yang harus dipelajari dan dimengerti di kehidupan ini. Seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.

Di tahun 2009, terjadi banyak peristiwa sosial, politik dan budaya yang membuka mata saya untuk lebih peka. Kesadaran untuk memahami artibut-atribut ekonomi banyak terjadi untuk saya di tahun 2009.

Saya merasa lebih banyak belajar pada tahun 2009 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Belajar, tidak hanya dalam arti meningkatkan kemampuan intelektual, namun juga meningkatkan kepintaran emosional. Tahun 2009 untuk saya terasa cukup berat. Alhamdulillah di akhir tahun 2009, beberapa teman memberikan masukan kepada saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Dan, insyaAllah tahun 2009 adalah tahun terakhir dimana saya hidup dengan hanya mementingkan ego pribadi. Jelaslah, tahun 2009 seharusnya menjadi salah satu tahap akhir dalam runtutan fase hidup saya. Masa kecil sudah saya lewati, dan seharusnya masa menuju dewasa sedang saya alami.

Semoga tahun 2010 menjadi sebuah momentum luar biasa bagi saya dalam mengarungi hidup berumah tangga dan mengejar cita-cita pendidikan..

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Nama Belakangku Suhardi

December 30th, 2009
Comments Off

Nama saya terdiri dari tiga kata. Diawali dengan Giri, lalu disambung dengan Narasoma, dan diakhiri dengan Suhardi. Giri berarti Gunung, Narasoma adalah nama ksatria di dunia perwayangan (Prabu Salya), yang menggambarkan kesetiaan, kesaktian dan dedikasi, dan Suhardi adalah nama ayah saya.  Saya tidak tahu arti kombinasi pemilihan kata tersebut, tetapi saya sangat yakin bahwa ayah saya memiliki doa di balik nama tersebut.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya berkata,” Gir, blog-mu bahasanya berat-berat eui. Sesekali ngomongin tentang diri lo sendiri. Ngapain ngomongin tentang orang lain mulu”. Hal itu membuat saya berfikir, ok kali ini saya akan menulis sesuatu tentang saya. Tetapi apa ya yang mau saya tulis? Terfikir di otak, saya akan menulis tentang suhardi, papa saya dan nama belakang saya. Bercerita tentang papa, bukan berati saya lupa akan kehadiran mama. Suatu saat saya akan menulis juga tentang mama saya.

Papa saya adalah orang yang luar biasa buat saya. Sejak kecil, saya dan saudara-saudara saya dididik dengan sangat tegas dan penuh kesantunan. Sebagai anak kecil, ya terkadang kita belum bisa menangkap keinginan positif dari orang tua. Papa saya selalu mendorong anak-anaknya untuk berprestasi. Ya, terkadang hari pembagian rapor menjadi hari yang menakutkan jika ranking 1 tidak bisa diraih. Jelas, seribu tanda tanya dan beberapa peringatan kecil akan datang menghampiri jika tidak bisa meraih nilai yang baik.

Papa juga mengajarkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang sangat mendalam untuk saya. Seringkali jika kita melakukan kesalahan kecil dalam hal bertanggung jawab, wah bersiaplah menghadapi ketegasan dari papa. Karena belum bisa berjiwa besar (ya, namanya juga anak-anak), saya pernah berencana kabur dari rumah karena sesuatu hal. Saya sudah menaruh baju-baju saya dalam tas (saya ingat sekali, saya meminjam tas alpina kakak saya yang berwarna merah), dan telah pergi bersepeda keluar dari kompleks perumahan. Namun, karena bingung mau kemana, terpaksa akhirnya kembali lagi ke rumah. Mengingat masa itu, sungguh penuh kenangan dan sangat memorable.

Like Father Like Son

Perlahan, seiring berjalannya waktu, saya sangat merasakan hasil positif dari didikan ayah saya. Prestasi, yang dulu terasa sebagai tuntutan, kini seolah menjadi kebutuhan. Ketika saya pindah ke SMU N 3 Bandung, prestasi mengkilap yang biasa saya dapat di Palembang, seolah-olah lenyap. Jangankan  10 besar, masuk 20 besar saja terasa susah. Jujur saya, itu terasa sangat menyakitkan. Ketika prestasi menjauh dari kita, seolah ada bagian yang hilang dari diri. Saya selalu berusaha untuk bisa meningkatkan kemampuan agar bisa berdiri dengan baik.

Ketika saya ingin masuk kuliah, saya sama sekali tidak punya gambaran mau masuk jurusan apa. Pilihan pertama Teknik Kimia ITB, saya pilih pun karena saya ingin meneruskan jejak ayah saya, yang juga lulusan dari Teknik Kimia (meskipun bukan dari ITB). Sungguh sebenarnya ada perasaan bersalah ketika saya gagal menembus pilihan pertama. Saya merasa ada yang tidak seharusnya terjadi. Namun kini saya yakin, Allah SWT telah menggariskan takdirnya yang terbaik buat saya untuk menjadi bagian dari Arsitektur ITB.

Rasa tanggung jawab, sikap menghormati apa yang menjadi hak orang lain, kedisplinan dan kerja keras; adalah bagian dari didikan papa saya, yang selalu saya jaga dalam hidup ini. Baru terasa sekarang, apa yang sebenarnya orang tua harapkan dan terapkan pada saya, semenjak saya masih kecil. Didikan Punishment terhadap kesalahan yang kecil membuat saya terpacu untuk selalu menghindari kesalahan atau kebodohan sekecil apapun itu. Ketika etos hidup unggul telah ditanamkan sejak kecil, saya yakin itu akan tumbuh mengiringi langkah saya sebagai seorang manusia, sampai kapanpun jua.

Tak lupa papa saya juga mengajarkan sikap nasionalisme yang tinggi. Pernah suatu hari bercanda ketika zaman bank rushing, “Papa, kalau suatu saat Indonesia colaps, kita mau pindah ke negara mana? “. Papa saya menjawab, “Ya, kita tetap tinggal di Indonesia”. Singkat.. Tapi saat bermakna!

Seperti keluarga Kalla dan Bakrie yang menaruh nama keluarga di belakangnya, saya juga berniat mengikutinya. Haji Kalla memiliki anak, Jusuf Kalla, yang juga meneruskan nama keluarga ke Solichin Kalla, dan saudari-saudarinya. Achmad Bakrie, yang memiliki anak Aburizal Bakrie, meneruskan ke Anindya Bakrie, Anindita Bakrie dan Anindra Bakrie. Meskipun nama papa saya tidak se-”besar” mereka, papa saya adalah orang besar untuk saya dan orang yang paling perpengaruh besar dalam hidup saya. Pengorbanan dan didikan papa saya sangat luar biasa, disamping jasa mama saya yang ikut menyempurnakan arti orang tua buat saya. Sebagai wujud cinta, saya akan sangat bangga meneruskan nama suhardi di belakang nama anak-anak saya kelak. Mereka harus bangga nantinya untuk berkata, “Nama Belakangku Suhardi”.

Suatu kalimat yang selalu saya ingat dari papa saya, “kalau punya cita-cita, wujudkanlah sekuat mungkin. Jangan apa-apa, udah menyerah duluan!“. Semoga saya bisa belajar dari kedua orang tua saya, dan kelak bisa menjadi orang tua yang baik untuk para penerus keluarga.

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

?

gnarasoma Umum

Arsitektur (di) Indonesia

December 19th, 2009
Comments Off

Dalam berbagai forum arsitektur, seringkali terjadi pembahasan mengenai arsitektur indonesia. Seperti apa itu arsitektur Indonesia? Apakah arsitektur vernakuler (setempat) menggambarkan arsitektur Indonesia? Ataukah arsitektur ekletik indi-tropis bisa mewakili arsitektur Indonesia? atau malah arsitektur tropis modern dapat dibilang representasi terkini dari arsitektur Indonesia?

Pembahasan mengenai arsitektur Indonesia seringkali tidak berujung. Seperti sebuah jalan buntu dan berujung kuldesak, wacana tersebut selalu kembali berputar haluan. Jelas tidak ada yang salah dalam sebuah forum pencarian jati diri. Perbedaan itu terjadi karena masing-masing pihak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Pada kesempatan ini, saya pun tidak ingin menegaskan wujud arsitektur Indonesia. Saya hanya ingin berbagi dari kacamata saya mengenai arsitektur Indonesia. Peter J.M Nas, dalam introduction “The Past in The Present – Architecture in Indonesia“, menyiratkan dengan jelas perbedaan konteks “arsitektur di Indonesia” dan “arsitektur Indonesia”. Arsitektur di Indonesia sudah jelas, merupakan akumulasi arsitektur dari berbagai kebudayaan yang pernah singgah di Indonesia, seperti dari India, China dan Belanda. Persinggahan tersebut memberikan persuasi preseden dalam perancangan arsitektur di Indonesia. Sedangkan, konteks “arsitektur Indonesia” sendiri masih dalam proses pencarian makna.

Untuk saya, dalam melakukan pencarian makna arsitektur Indonesia, yang harus dilakukan pertama adalah melihat kembali pada lembaran sejarah mengenai proses pembentukan arsitektur di negeri ini. Saya sangat menyenangi konsep pengklasifikasian sejarah arsitektur di Indonesia yang dilakukan oleh Johannes Widodo. Ada 5 tahap sejarah arsitektur Indonesia yang dibagi oleh beliau, namun saya merangkumnya ke dalam 3 kelas zaman, yaitu:
1. Zaman arsitektur Pra-modern
2. Zaman proto-modern
3. Zaman Modern (terbagi atas tahapan: transplantasi-adaptasi-akomodasi-hibridasi).

Zaman Arsitektur Pra-Modern
Pada periode 10.000 SM s.d 200 M, berbagai suku-suku kecil tersebar di seluruh wilayah nusantara, yang tumbuh dengan adat dan kebudayaan mereka. Berbagai atribut budaya mereka hasilkan untuk dapat bertahan hidup, baik dengan cara bercocok tanam atau berternak. Kapak, lukisan gua, pahatan batu dan juga bangunan vernakuler (setempat) merupakan produk yang dihasilkan pada era ini. Pada zaman ini, arsitektur pertama nusantara berupa bangunan-bangunan vernakuler telah berdiri.

Proses simbolisasi pemaknaan (semiotika) sangat terasa pada artikulasi bangunan-bangunan vernakuler, sehingga menyebabkan keanekaragaman bentuk bangunan vernakuler yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Simbolisasi spiritual (pemujaan) ataupun hukum adat seringkali menjadi hal utama yang melatarbelakangi bentuk /pola organisasi sebuah arsitektur. Di pulau sumatera, kita bertemu dengan arsitektur vernakuler seperti rumah gadang; dan di pulau Sulawesi, kita bertemu dengan tongkonan (rumah adat Toraja). Jelas terlihat adanya perbedaan facade, bentuk dan organisasi ruang pada kedua bangunan tersebut. Proses simbolisasi makna lah yang menjadi aktor utama proses peng-arsitektur-an bangunan tersebut.

rumah adat copy

Zaman proto-modern
Zaman ini ditandai dengan adanya proses pencampuran budaya China, India, Arab dan Persia melalui konteks urbanisasi dan makro-arsitektur. Berbagai aspek budaya saling beradaptasi menghasilkan bentuk-bentuk ekletisme. Terjadi proses penggabungan aspek budaya Islami, Hindu, Budha dan China.

masjid agung demak

Salah satu hasil karya arsitektur pada zaman ini adalah Masjid Agung Demak. Desain yang adaptif dari Masjid ini berawal dari prinsip kosmologi Hindu, yakni konsep mandala; yang digabungkan dengan aspek Islami sebagai tempat peribadatan,  dimana selama proses pembangunannya banyak terjadi proses tektonika struktur yang berasal dari budaya China.

Inilah awal dari zaman modern untuk arsitektur Indonesia. Zaman dimana mulai terjadi perkenalan antara arsitektur lokal dengan budaya dari luar.

Zaman Modern
Zaman Modern ini diawali dengan kedatangan bangsa Eropa, seperti Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris ke Bumi Nusantara. Pada awal zaman modern ini, terjadilah tahap transplantasi. Dimana bangunan-bangunan Eropa dihadirkan secara mentah-mentah (atau langsung) di bumi pertiwi ini. Terlihat jelas, adanya pemaksaan ideologi arsitektur. Alhasil, arsitektur hasil transplantasi ini dirasakan tidak nyaman dan kurang bersahabat dengan lingkungan.

Menyadari adanya ketidakseimbangan atribut-atribut arsitektur, mulailah terjadi proses adaptasi, dimana bangunan-bangunan hasil rancangan bangsa Eropa ini disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Adaptasi arsitektur yang paling terlihat terjadi pada teras dan atap (yang didesain volume dengan semakin besarguna untuk mereduksi dampak suhu panas iklim tropis). Proses adaptasi fisik ini berlanjut kepada tahap akomodasi kultural. Gaya hidup, norma sosial dan tradisi budaya lokal dijewantahkan ke dalam ruang-ruang arsitektur. Perkawinan campur antara bangsa Eropa dengan warga pribumi, China dan bangsa lainnya kemudian menghasilkan kebudayaan indis, sebuah perpaduan budaya Belanda dengan budaya Lokal yang berimplikasi pada gaya hidup, fashion, makanan dan arsitektur.

Villa Isola

Setelah melewati masa adaptasi dan akomodasi, perlahan arsitektul lokal mencari bentuk-bentuk baru hasil penggabungan budaya-budaya. Eksperimen-eksperimen tiga dimensional muncul sebagai respon terhadap kehidupan sosio-budaya. Masa ini disebut masa hibridasi, dimana banyak sekali terdapat terobosan-terobosan arsitektur yang menjadi preseden kanonik, seperti kemunculan Art-Deco Indonesia, berdirinya perusahaan arsitektur swasta pertama di Indonesia, yaitu technisch bureau biezeveld & moojen, hadirnya THS (Technische Hoogeschool), dan dampak lainnya. Gedung Villa Isola (karya C.P.W Schoemakers), menjadi salah satu karya arsitektur yang lahir pada era ini.

Sejak masa kemerdekaan hingga kini, arsitektur Indonesia memasuki tahap pencarian identitas kontemporer. Pada masa kepemimpinan Soekarno, banyak karya-karya arsitektur yang timbul melalui langgam internasional dengan identitas lokal, seperti yang terjadi pada gedung Konefo (kini gedung DPR/MPR RI), Stadion Ganefo (kini Gelora Bung Karno), dan gedung-gedung lainnya. Pada masa kepemimpinan Soeharto, nilai-nilai lokal dikedepankan melalui tampilan-tampilan fisik seperti atap pelana atau atap prisma. Selain itu, di masa kepemimpinan Presiden Soeharto, gedung-gedung pencakar langit (skycraper) mulai bermunculan menghiasi wajah Jakarta sebagai kota Metropolitan. Dan di era millenium, beberapa karya arsitektur mulai terkena “efek globalisasi”. Arsitektur-arsitektur di negeri ini berusaha untuk melakukan eksperimen baru dengan menggunakan gubahan bentuk transformasional dengan tetap mengangkat nilai-nilai tropikalitas . Terlihat bagaimana proses pencarian diri arsitektur kontemporer Indonesia seperti tidak akan ada habisnya.

Buat saya sendiri, susah untuk menyatakan mana yang disebut arsitektur Indonesia. Setidaknya karya-karya arsitektur yang pernah berdiri di bumi pertiwi ini adalah bagian dari perjalanan arsitektur Indonesia. Arsitektur vernakuler, arsitektur indis, dan arsitektur modern Indonesia adalah wajah arsitektur kita. Mungkin arsitektur Indonesia bukan merupakan sebuah hasil (bentuk), melainkan sebuah perjalanan kebudayaan yang dimanifestasikan dalam bentuk arsitektur. Akumulasi dari diversitas arsitektur di Indonesia memberikan warna yang cerah untuk kehidupan manusia Indonesia. Semoga arsitektur (di) Indonesia kelak bisa menjadi salah satu kiblat dunia arsitektur.

Jaya selalu arsitektur Indonesia!

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Arsitektur

Sensitivitas Hukum..

December 18th, 2009
Comments Off

Beberapa bulan terakhir, isu yang sangat hangat menghiasi wajah media massa Indonesia adalah dari dunia hukum. Kriminalisasi KPK, Perseteruan Prita Mulyasari dan sebuah Rumah sakit, Kasus Bu Minah dengan Kakao-nya, Demo 9 Desember – anti Korupsi, Luna Maya vs Infotainment, dan Kisah Penyelematan Bank Century merupakan bagian dari sekelumit cerita hukum tersebut. Saking hebohnya, isu-isu nasional lainnya seperti National Summit, Peran Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim Copenhagen,atau pengawasan 100 hari pemerintahan Indonesia bersatu Jilid II seperti terlupakan.

Sangat disayangkan, namun mungkin bangsa Indonesia memang perlu melewati masa krisis hukum ini agar kelak menjadi negara yang memiliki legitimasi hukum yang kuat. Cobaan biasanya memberikan sebuah kekuatan baru kepada bangsa ini, seperti saat bangsa ini terpuruk dan terperosok oleh gigitan moneter 1997-1998 yang menyebabkan terjadinya krisis multidimensi. Namun, berkat kejatuhan krisis moneter tersebut, bangsa ini mendapatkan kekuatan baru untuk menata kembali arsitektur ekonominya. Setidaknya, ketika dunia diserang oleh krisis global, yang bermuara dari subprime mortgage, bangsa Indonesia tetap tumbuh melalui indikator-indikator makro ekonomi yang positif.

Timbangan

Saya sendiri tidak ingin begitu banyak berbicara mengenai dunia hukum, karena saya sama sekali bukan ahli di bidang tersebut. Salah berbicara bisa menjadi bumerang di zaman sekarang ini. Kebebasan Pers sedang diuji melalui UU ITE. Bu Prita Mulyasari telah menjadi salah satu “korban” kebebasan beropini. Saya sendiri tidak habis berfikir, bagaimana mungkin seorang consumer, yang tidak mendapatkan perawatan medis yang sesuai (menurut Bu Prita), kemudian menuliskan opininya untuk dikirimkan ke 20 temannya, bisa berakhir dengan ancaman hukuman penjara dan denda ratusan juta. Dukungan Masyarakat Indonesia dengan aksi “Koin Untuk Prita”, yang telah terkumpul ratusan juta, seperti sama sekali tidak mengusik “kebenaran yang sejati”. Terlihat, vonis dan hukuman masih mengancam kehidupan Bu Prita. Doa kebebasan saya sampaikan kepada Bu Prita.

Hukum Indonesia sedang melewati masa reinkarnasi. Proses perubahan tersebut membawa sensitivitas hukum menjadi sangat volatile. Semoga proses pembenahan dunia hukum Indonesia bisa berjalan cepat dan membawa dampak yang sangat baik. Harapan saya, semoga bangsa Indonesia kelak akan tumbuh menjadi bangsa yang kuat dari sisi ekonomi dan hukum.

Maju terus, penegak hukum Indonesia!

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Pertamax Gan!

December 15th, 2009
Comments Off

Pertamax adalah motor gasoline Tanpa Timbal dengan kandungan aditif lengkap generasi Mutakhir yang akan membersihkan Intake Valve Port Fuel Injector dan Ruang Bakar dari Carbon deposit dan mempunyai RON 92 (Research Octane Number). Pertamax ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded) serta untuk kendaraan yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.

Pertamax memiliki nilai oktan 92 dengan stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene-nya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin. Dilengkapi dengan aditif generasi 5 dengan sifat detergency yang memastikan injector bahan bakar, karburator, inlet valve dan ruang bakar tetap bersih untuk menjaga kinerja mesin tetap optimal. Pertamax sudah tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan sehingga Pertamax merupakan bahan bakar yang sangat bersahabat dengan lingkungan sekitar.

Pertamax

Itulah gambaran dari Pertamina mengenai produk mereka, pertamax. Namun, jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain, Premium, ternyata Pertamax tidak begitu “laku” di Indonesia. Dari data Pertamina, hingga akhir semester pertama 2009, total penjualan Premium mencapai 9.900.000 KiloLiter, sedangkan Pertamax hanya mencapai 2.064 KiloLiter (bisnis.vivanews.com). Jika diprosentasekan, maka bisa dikatakan bahwa 99% penggunaan BBM Retail berasal dari penggunaan Premium.

Dalam RAPBN 2010, belanja subsidi premium / premium bio dialokasikan sebesar 24,3 triliun rupiah. Pada tahun 2009 sendiri, APBN menunjukkan bahwa alokasi subsidi premium / premium bio mencapai 14,4 triliun rupiah namun ternyata penggunaan kuota volume premium bersubsidi melonjak sekitar 3-5% (per desember) akibat adanya disparitas harga subsidi dengan non-subsidi. Sebuah nominal subsidi yang sangat besar!

Indonesia termasuk negara pensubsidi BBM terbesar di dunia. Memang, per liter premium di Indonesia masih kalah dengan di Venezuela, Arab Saudi atau Iran. Di Venezuela, harga premium per liter adalah Rp 279. Di Arab Saudi, harga premium per liter adalah Rp 1.116. Dan di Iran, harga premium per liternya adalah Rp 4.092. Namun, jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka 230 juta penduduk, dan jumlah kendaraan bermotor mencapai 20 juta-an kendaraan, maka sangat besar volume premium yang harus disubsidi oleh pemerintah melalui dompet fiskal.

Untuk mengurangi adiksi pengguna kendaraan bermotor terhadap premium, Pertamina selaku agen tunggal distribusi premium bersubsidi harus berfikir keras untuk dapat mengalihkan penggunaan premium. Ada beberapa cara yang digunakan oleh Pertamina untuk “mengangkat” harkat pertamax, yang selalu saya ingat karena sangat berkesan buat saya. Cara yang sangat “normal” yang ditempuh oleh Pertamina untuk mengangkat harkat Pertamax adalah melalui media massa. Seringkali kita lihat di media televisi atau media cetak, terdapat iklan Pertamina yang mengajak consumer kepada penggunaan pertamax. Pada iklan tersebut, dideskripsikan mengenai keunggulan dan ketangguhan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan. Namun, bukan cara yang itu yang berkesan di hati saya.

Pernah suatu hari, saya melihat sebuah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di daerah Jakarta Selatan memasang poster besar (baligho) yang bertuliskan “Orang Mampu Beli Pertamax!”. Dalam hati saya, “berani juga ya Pertamina menuliskan kata-kata tersebut”. Namun, selang berapa minggu dari kejadian itu, saya membaca berita di sebuah media elektronik bahwa ada sekumpulan masyarakat yang mendemo SPBU tersebut untuk menurunkan poster itu dengan alasan poster tersebut bernada diskreditasi. Dan benar, setelah berita itu, saya melihat sudah tidak ada lagi poster “Orang Mampu Beli Pertamax” yang terpajang di SPBU tersebut. Meskipun kontroversial, cara ini sangat berkesan buat saya karena sungguh menggelitik, dan bahkan sebenarnya ironis untuk masyarakat kita.

SPBU Pertamina

Setelah lama tidak melihat gebrakan visual dari Pertamina, saya tersontak melihat strategi baru Pertamina untuk “mengangkat” harkat Pertamax. Saya sungguh menyenangi strategi baru dari Pertamax. Meskipun harus mengeluarkan cost, daya tarik reward untuk pembelian Pertamax sangat menggoda hati. Sekitar pertengahan 2009, ketika saya mengisi Pertamax di SPBU HR Rasuna Said, ada sebuah reward yang ditawarkan oleh Pertamina jika saya membeli pertamax di atas sekian liter. Hadiahnya memang tidak terlalu besar (karena saya hanya mendapatkan teh kotak), namun sangat berkesan buat saya, mengingat SPBU lain seperti Shell sudah menawarkan sebuah bentuk reward berupa diskon. Dan dari bulan November 2009 s.d Januari 2010; SPBU Pertamina kawasan Jakarta Selatan kembali menawarkan bonus reward kepada consumer yang membeli Pertamax di atas 25 liter (untuk mobil). Hadiahnya kali ini lebih besar karena menawarkan BlackBerry Gemini yang diundi setiap minggu-nya. Sungguh luar biasa!

Saya sendiri menggunakan Pertamax, bukan karena keuntungan pertamax sebagai fuel yang ramah lingkungan atau bahan bakar yang berkualitas, namun semata-mata karena idealisme saya untuk membantu negara. Sederhana untuk saya; apapun yang bisa saya lakukan untuk negara ini, baik menambah pendapatan negara, mengurangi pengeluaran negara, atau terlibat dalam bentuk dedikasi yang lain, saya pasti akan lakukan untuk Indonesia!

Memang berat bagi  Pertamina untuk mengajak pengguna kendaraan pribadi secara inisiatif menggunakan Pertamax. Konversi Minyak Tanah ke bentuk LPG pun harus di-”paksa”-kan melalui campur tangan pemerintah. Jika Pertamina harus berjuang sendirian, sudah pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mengedukasi dan mengadiksi consumer akan keuntungan Pertamax. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif belum bisa memberlakukan ketentuan penggunaan pertamax sebagai  bahan bakar wajib kendaraan pribadi dengan alasan dampak inflasi dan multiplier effect-nya, serta alasan subsidi premium sebagai salah satu output dari pemasukan pajak dan migas.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, sebenarnya subsidi yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk Premium / Premium Bio sangatlah besar. Akan sangat disayangkan jika subsidi yang semula ditujukan untuk segmentasi bawah, malah dinikmati oleh sebagian besar segmentasi menengah ke atas. Buat saya, subsidi berjumlah triliun-an tersebut akan lebih produktif jika digunakan untuk pembangunan sarana edukasi, belanja negara untuk infrastruktur, penyediaan jaringan telekomunikasi, informasi, dan multimedia untuk kepentingan nasional, penggunaan smart card untuk membatasi penggunaan subsidi energi, dan berbagai hal positif lainnya. Saya berharap penggunaan subsidi di negeri ini bisa tepat sasaran guna menunjang kehidupan bernegara yang makmur nan sejahtera.

Semoga, Pertamax Pertamina akan menjadi pilihan pertama, layaknya kata “Pertamax” yang sering digunakan sebagai posting pertama pada forum-forum di blogspehere Indonesia. Pertamax,Gan!

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Regresi Kreativitas..

December 14th, 2009
Comments Off

OtakOtak, layaknya sebuah barang logam, jika lama tidak dipakai akan berkarat dan berdebu. Pengkaratan dan pendebuan sudah pasti akan mengganggu kinerja dari benda tersebut. Sebuah benda juga tidak dapat dipakai terus menerus, namun harus dapat dipakai secara optimal dan bijak.

Dan rasanya itu yang sedang terjadi pada otak kanan saya. Practice makes Perfect. Tanpa diasah, sebuah pedang pasti akan tumpul. Tanpa latihan, otak akan mengalami kemandulan. Lama tidak bermain di ranah daya kreasi, seolah membuat otak kanan saya mengalami sebuah regresi kreativitas.

Sudah saatnya kembali ke ranah kreativitas. Kembali menggali dan mengoptimalkan kemampuan kreativitas yang ada.

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Budaya Salah

November 26th, 2009
Comments Off

Ketika saya masih berkuliah di Bandung, saya pernah melakukan pengamatan singkat mengenai menyeberang. Saya ingin melihat, dalam periode waktu tertentu, berapa orang yang menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan dan berapa orang yang menyeberang menyelonong. Saya mengambil sampel pada jalan raya di depan BIP (Bandung Indah Plaza). Saya sendiri, sembari menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan, mengamati berapa orang yang menyeberang menyelonong dan berapa yang menggunakan jembatan. Dari hasil pengamatan saya, ada 22 orang yang menyeberang menyelonong dan sayangnya, hanya 2 orang (termasuk saya) yang menggunakan jembatan penyeberangan. Jika diprosentasekan, hanya 8,3% yang disiplin!

Menyeberang

Hasil pengamatan di atas (meskipun tidak memenuhi standar statistika) buat saya sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana aplikasi kedisplinan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Ketika “salah” menjadi hal yang biasa, “salah” seolah-olah menjadi hal yang lumrah dan menjadi tidak apa-apa ketika dilanggar. Kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran hukum seolah membias dan membaur dengan budaya. Sangat disayangkan jika kebiasaan buruk ini berakumulasi menjadi budaya. Bangsa Indonesia tidak butuh budaya indisplin! Bangsa ini butuh budaya unggul dalam setiap aspek kehidupan.

Saya pernah menonton acara di TV, ya sekilas saja, dialog mengenai masalah korupsi. Ketika ada seorang pembicara berkata, “korupsi itu sudah mengakar dan menjadi budaya di bangsa ini…”; pembicara yang satunya membantah,”Wah, anda salah mengatakan korupsi itu budaya, Korupsi itu adalah kejahatan! Bukan budaya bangsa ini. Korupsi harus dihapuskan dan diberantas!”. Saya sangat setuju dengan bantahan tersebut. Harus diakui, korupsi memang telah menemani perkembangan bangsa Indonesia selama puluhan tahun. Namun, bukan berati korupsi harus dibiarkan berakumulasi menjadi budaya. Korupsi harus dibumihanguskan dari muka bumi Indonesia!

Pada artikel ini, isu yang ingin saya wacanakan adalah mengenai tindakan-tindakan yang salah, namun sangat lumrah untuk dilakukan sehingga seolah-olah menjadi kebiasaan (semoga tidak berakumulasi menjadi budaya). Selain meyeberang tidak pada tempatnya, banyak “dosa” lain yang sering kita lihat dan tidak mendapat ganjaran yuridis, seperti kendaraan pribadi yang masuk menggunakan jalur busway (padahal jelas-jelas tertulis “Khusus Busway”), menggunakan bahu jalan pada lajur tol, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya. Yang sangat disayangkan, jika ketika kejadian tersebut terjadi, ada polisi di Lokasi Kejadian, namun tidak menindas apa yang salah. Hal ini lah yang membuat seolah-olah kesalahan itu tidak salah, sehingga menjadi lumrah untuk dikerjakan. Saya tahu perbandingan polisi terhadap warga sangatlah kecil, namun bukan berarti penegakan hukum tidak bisa dilakukan secara menyeluruh. Hukum harus berbicara dan bertindak dari hal-hal yang detail (kecil) sehingga akan memberikan multiplier effect yang positif untuk penegakan hukum di Indonesia.

Saya ambil kasus menyeberang. Pada UU No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 132 ayat 1b) mengatakan bahwa Pejalan Kaki wajib menyeberang di tempat yang telah ditentukan. Pada ayat 2, dikatakan bahwa jika tidak terdapat tempat penyeberangan yang ditentukan pada ayat 1b, pejalan kaki wajib memperhatikan keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Pada pembagian pembahasan, dikatakan bahwa tempat penyeberangan adalah zebra cross dan jembatan penyeberangan. Dan setahu saya, di sepanjang jalan di Indonesia, pasti terdapat zebra cross dan jembatan penyeberangan; meskipun saya akui, terkadang tidak manusiawi (seperti tempat penyeberangan terletak terlalu jauh). Tapi hukum harus tetap berdiri dan ditegakkan! Pengguna jalan harus menyeberang pada tempatnya dan menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakan tempat penyeberangan yang manusiawi.

Selain hal-hal di atas, terkadang ada kejadian-kejadian yang buat saya “salah” namun bukan dilihat dari sisi legalitas. Contoh kejadian tersebut adalah antrean atau joki 3-in-1. Antrean tidak pernah tercatat secara yuridisial pada undang-undang. Mengantre adalah panggilan hati dalam menciptakan kenyamanan bersama. Dalam UU No.22 Tahun 2009 pun tidak ada pembahasan mengenai mengantre. Seringkali kita melihat pada sebuah barisan antrean, tiba-tiba datang seorang atau sebuah kendaraan yang merusak pola barisan tersebut. Sayangnya, jika ada seorang atau sebuah kendaraan berhasil masuk dan “merusak” barisan antrean, biasanya akan ada pengikut-pengikut lain. Sungguh amat disayangkan! Meskipun tidak tercatat secara yuridisial, sesungguhnya budaya mengantre adalah sebuah budaya unggul yang menggambarkan sikap penghormatan terhadap orang lain. Orang yang tidak bisa mengantre, memang tidak dapat dipersalahkan secara hukum, namun seharusnya orang tersebut dapat diberikan sebuah hukuman secara moral atau sosial. Kita harus menciptakan budaya mengantre sebagai bagian dari moral dan akhlak masyarakat Republik Indonesia. Sehingga jika ada orang yang mau menyimpang dari moral dan akhlak tersebut, marilah kita semua; warga  Indonesia, pemerintah Indonesia dan juga Media Massa Indonesia, untuk saling mengajak kembali ke lajur yang semestinya.

Nyeberang aah

Selain mengantre, suatu masalah yang masih mengganjal di hati saya adalah masalah joki 3-in-1. Pernah suatu hari, saya diminta untuk  datang pada suatu pertemuan di salah satu mal yang terletak di jalan Sudirman. Pertemuan tersebut dimulai pada pukul 7 malam; dimana artinya saya harus tiba disana sebelum pukul 7 malam. Karena suatu hal, saya baru dapat bergerak ke tempat tersebut sekitar pukul 6. Itu berarti jika saya mau menuju ke mal tersebut, saya, yang pada saat itu sedang membawa kendaraan pribadi, harus melewati Jl.Sudirman dengan peraturan 3-in-1 nya, atau saya harus memutar melewati daerah lain dengan konsekuensi membutuhkan waktu yang lebih lama. Rekan saya berkata, “Sudah Gir, pake Joki saja. Paling bayar 10 sampai 15 ribu per orang”. Disini idealisme saya diuji.

Memang, menurut Perda No.8 Tahun 2007, pada pasal 4 ayat (2) : Setiap orang dilarang menawarkan diri menjadi joki di pinggir jalan kepada pengendara kendaraan roda 4 (empat) yang akan memasuki kawasan pengendalian lalu lintas; dan pada ayat (3) Setiap orang yang menggunakan kendaraan roda 4 (empat) yang akan memasuki kawasan pengendalian lalu lintas dilarang menggunakan joki. Meskipun ini telah tertulis pada aturan legal, banyak pihak yang menentang perda ini karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Pada UUD 1945, setiap orang berhak atas penghidupan yang layak; dan juga negara memiliki kewajiban memelihara fakir miskin dan gelandangan. Ketika negara tidak bisa melindungi orang miskin, alangkah jahatnya ketika pemerintah juga melarang penghidupan yang secara langsung tidak berhubungan dengan kriminalisasi.

Tapi disini kita coba bermain logika saja. Jalur Sudirman-Thamrin sangatlah padat. Untuk mengurangi kepadatan yang terjadi di Jalan tersebut, pemerintah daerah mengeluarkan peraturan kawasan 3-in-1. Hanya kendaraan yang berisikan minimal 3 orang, yang boleh melintas di jalan tersebut, kecuali kendaraan umum dan motor. Peraturan ini dibuat agar mobil-mobil yang berisi kurang dari 3 orang dapat melewati rute lain atau harus menunggu setelah jam berlaku 3-in-1 sehingga nantinya berdampak pada pengurangan kemacetan di Jalur Sudirman-Thamrindi saat peak-hours. Nah, untuk mengatasi persyaratan minimal 3 orang, maka bermunculan lah orang-orang yang menawarkan diri kepada pengguna kendaraan pribadi agar memenuhi kuota tersebut. Sebuah bentuk mencari celah hukum pada perda tersebut. Orang-orang yang menawarkan diri tersebutlah yang kita sebut Joki.

Muncul pertanyaan di benak saya, apakah sebenarnya kehadiran Joki bersalah secara hukum atau secara moral? Sesungguhnya peraturan 3-in-1 dibuat untuk menghasilkan kenyamanan bersama, yakni mengurangi dampak kemacetan. Sehingga seharusnya, tanpa perlu dibuatkan peraturan pun, manusia Indonesia dapat menyadari bahwa tindakan menyewa joki adalah tindakan yang mengganggu kenyamanan bersama. Ya, bukan berarti karena ada celah hukum, maka kita bisa memanfaatkan celah tersebut. Tapi ingatlah awal mula kenapa peraturan itu muncul. Ingatlah apa yang menjadi tujuan dari peraturan tersebut. Adalah sebuah konsekuensi jika kita membawa kendaraan seorang diri, dimana kita mengagungkan ego kita, kita harus tetap menghormati kenyamanan bersama.

Hal di ataslah yang membuat saya, dengan senang hati, tidak melewati jalur 3-in-1 sampai dengan jam berlakunya habis (setelah jam7 malam). Memang pada pertemuan tadi saya terlambat, namun saya berkata kepada rekan saya, maaf saya terlambat karena saya memang menunggu jam berlaku 3-in-1 habis. Sangat senang bagi saya untuk tetap bisa mempertahankan idealisme saya.

Memang, terkadang kita merasa peraturan yang dibuat pemerintah sudah tidak lagi relevan. Namun bukan berarti karena tidak relevan, kita dapat melawannya dengan seenak hati. Ada tata cara untuk menghadapi hal tersebut. Ada cara yang lebih etis untuk menghasilkan peraturan yang lebih terkini, aktual dan relevan. Sesungguhnya demokrasi Indonesia adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jadi, janganlah melukai apa yang telah (wakil) rakyat hasilkan. Berdialoglah dengan bijak.

Saya berharap semua hal-hal dan perbuatan yang salah, baik secara moral ataupun yuridisial, dapat terus dikurangi di bumi pertiwi ini. Budaya unggul dan budaya saling menghormati telah menanti di gerbang kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Marilah kita menuju ke sana dengan yakin dan optimis. Saatnya budaya salah dihapuskan dari tanah air tercinta ini.

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Apakah kamu sebahagia diriku?

November 21st, 2009
Comments Off

Ada sebuah kisah yang selalu saya ingat dari Prie GS, seorang sastrawan penggoda Indonesia, mengenai kebahagiaan. Saya tidak begitu ingat detail kisahnya. Hanya saja makna atau gambaran besar dari kisah tersebut selalu saya ingat. Kisah tersebut bermula dari proses Kang Prie mencari keindahan nyanyian dari seekor burung.

Suatu hari, kang Prie mencari burung yang bisa mengeluarkan suara-suara dan nyanyian merdu; sampai akhirnya bertemulah dengan seorang penjual burung. Penjual tersebut menawarkan sepasang burung yang dapat menyanyikan suara-suara merdu dengan syarat, pasangan burung tersebut tidak boleh disatukan dalam satu kandang. Kedua burung tersebut harus dipisahkan guna dapat menghasilkan suara-suara merdu. Mendengar persyaratan dan dampak yang dapat dihasilkan, Kang Prie pun membeli sepasang burung tersebut.

Hari demi hari berlalu, kedua burung tersebut dipisahkan ke dalam kandang yang berbeda dan hasilnya benar seperti kata sang penjual, menghasilkan suara-suara nan merdu. Senang sekali rasanya Kang Prie bisa menikmati alunan nada-nada dari sepasang burung tersebut. Namun sayang, pada suatu hari, burung tersebut harus digabungkan ke dalam satu kandang karena ada masalah teknis dengan kandang yang satunya. Sambil menunggu kandang yang satunya diperbaiki, Kang Prie pun terpaksa menggabungkan sepasang burung tersebut ke dalam satu kandang.

sangkarburungDan apa yang terjadi setelah sepasang burung tersebut disatukan? Hening! Kedua burung tersebut malas bersuara. Keduanya seperti orang yang sedang kasmaran. Duduk tersipu malu; Tanpa suara; hanya saling menatap mengisi kekosongan hati. Geram hati Kang Prie melihat dan mendengarnya. Sudah dikasih makan, sudah dikasih minum, tapi tetap tidak bersuara. Bingung Kang Prie melihat hal ini.

Beruntunglah tak lama berselang, masalah pada kandang yang satu telah selesai sehingga sepasang burung tersebut dapat diletakkan terpisah ke kandangnya masing-masing. Setelah hal tersebut dilakukan oleh Kang Prie, ya benar kedua burung tersebut kembali mengeluarkan suara-suara merdu.

Tiba-tiba terlintas di fikiran Kang Prie, “kenapa burung-burung ini malah diam ya jika saya gabungkan, akan tetapi malah berkicau indah ketika saya pisahkan?”. Bertanya dan berkonklusi di dalam hati, mungkin kicau yang selama ini didengar sebenarnya merupakan luapan emosional dari terpisahnya burung-burung tersebut. Suara yang terdengar indah itu sebenarnya tak lebih dari sebuah ratapan dan realisasi audial sebuah perasaan rindu. Yang selama ini di dengar indah dan merupakan kebahagiaan oleh Kang Prie, ternyata merupakan sebuah kesedihan dan tangis dari burung-burung tersebut.

Yap, kurang lebih seperti itu kisah dari Prie GS mengenai kebahagiaan. Sebuah kisah yang sangat aspiratif dan menyentuh untuk saya. Mengingatkan kita bahwa kita seringkali tersenyum dan bahagia, yang secara tidak langsung malah menginjak dan membuang kebahagiaan orang lain.

Kisah di atas sering membuat saya berfikir, apakah kebahagiaan saya merepotkan kebahagiaan orang lain? Saya tidak tahu jawabnya. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah mencoba untuk membaca dan mengerti kehadiran orang lain guna menghasilkan sebuah kebahagiaan bersama.

Jangan mengganggu kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan pribadi!
Hargai yang harus dihargai!
Hidup itu indah ketika masing-masing kita berdiri pada peran yang tepat.

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum

Belkitakbolang, Sebuah Pendekatan Humanis

November 18th, 2009
Comments Off

Kata Belkitakbolang pertama kali saya dengar dari sahabat hidup saya, Myra Sapphira Tyagita. Belkitakbolang merupakan akronim dari “Belok Kiri Tidak Boleh Langsung!”. Hmm, sebuah akronim yang sedikit aneh, tetapi perlahan lezat untuk diucapkan.

Baru-baru ini, muncul peringatan belkitakbolang yang ditujukan kepada para pengguna kendaraan. Peringatan belkitakbolang ini tertuang dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum. Pada pasal 112, ayat 3 disebutkan : “Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas”.

Dari berita-berita yang saya baca, ada 3 alasan mengapa muncul peringatan belkitabolang. Alasan pertama, untuk memberikan jaminan keselamatan ke penyeberang jalan. Kedua, geometrik persimpangan-persimpangan yang ada di wilayah Jakarta tidak semuanya diperbolehkan untuk belok kiri langsung. Dan ketiga, penerapan aturan tersebut untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Condro Kirono mengatakan bahwa di beberapa negara maju seperti Jepang dan Singapura, aturan tersebut sudah diterapkan sejak lama dengan alasan mitigasi terhadap kecelakaan.

Belok KiriSebagai mantan pejalan kaki dan (kini) pengguna kendaraan pribadi, saya sangat menyukai dan menghargai adanya peringatan belkitakbolang. Belkitakbolang, buat saya, merupakan sebuah pendekatan yang dirancang untuk memberikan penghormatan dan pengutamaan terhadap pedestrian (pejalan kaki). Selama ini, dengan kendaraan dapat langsung berbelok kiri, menjadi sebuah ketakutan tersendiri untuk pedestrian melangkahkan kaki menyeberang pada zebra cross. Zebra cross seringkali diletakkan di pangkal jalan atau dekat dengan perempatan, sehingga jika kendaraan dapat melaju kencang ketika berbelok kiri, keamanan dan kenyamanan menggunakan zebra cross menjadi suatu hal yang diragukan hasilnya. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab zebra-cross kini hanya menjadi sebuah lukisan kubisme hitam-putih di atas kanvas aspal.

Belkitakbolang memberikan kesempatan yang sangat manusiawi kepada pedestrian. Sebuah pendekatan yang humanis dalam menciptakan kerukunan hidup berlalu lintas di Indonesia. Semoga semakin banyak pendekatan-pendekatan humanis yang diterapkan pemerintah untuk kehidupan urban Indonesia.

—————————————————————————————————————

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menghabiskan satu malam di kota parahyangan, Bandung. Sebuah kejutan visual buat saya ketika melewati Jalan Dago. Suasana yang cukup berbeda dibandingkan ketika saya masih berkuliah disana. Sepanjang jalan dago, saya melihat keramaian manusia mengisi ruang-ruang publik. Berbagai komunitas menikmati malam di ruang-ruang terbuka tanpa perlu menonjolkan dan mengangkat identitas masing-masing. Komunitas bikers, komunitas anak punk, komunitas anak gaul, komunitas mahasiswa; semuanya membaur tanpa perlu mencitrakan sebuah dikotomi status. Bahkan, median jalan pun dipenuhi oleh segerombolan manusia, entah itu dari komunitas mahasiswa, komunitas punk, atau memang gelandangan, yang mencoba peruntungan menjajakan alunan suara mereka kepada para pengguna mobil.

Di masa ketika saya kuliah, keramaian ini memang sudah ada, namun belum seramai sekarang. Jalanan dan ruang-ruang publik kini dipenuhi oleh aktivitas intramanusia. Ruang-ruang kosong di trotoar dan taman, diisi dengan aktivitas saling berbagi. Diiringii oleh cuaca yang sejuk, menambah semarak kebahagiaan malam bagi para penikmat ruang publik Bandung. Sebuah pemandangan yang sangat jarang untuk dinikmati di kota Jakarta.

Saya pribadi sangat menyenangi suasana humanis di Jalan Dago, Bandung. Manusia, sebagai insan Tuhan, berada pada kodratnya untuk saling berbagi, saling berkomunikasi, saling membuar dalam sebuah lingkungan besar. Meskipun terkadang terjadi disorientasi legalitas dan apresiasi, masih ada nikmat hati untuk memberikan tolerir kepada disorientasi tersebut. Damai sekali melihat ada kehidupan masyarakat yang terbuka ini. Kaki-kaki manusia berjalan pada lantai-lantai taman. Senyum dan tawa menghiasi gelapnya malam.  Sangat berbeda dengan kota Jakarta, dimana kaki-kaki manusia tergantikan oleh ban-ban mobil di jalanan. Jalanan pun dihiasi dengan emosi dan keinginan berkompetisi ingin salip-menyalip. Di sebagian Jakarta, Budaya untuk membaur tergantikan oleh budaya going to mall. Kedai kopi modern menjadi tempat nongkrong yang menyediakan ruang-ruang personal nan karismatik secara prestise. Tidak terasa adanya pembauran antar komunitas. Hambar dari sisi humanis!

Saya berharap, bangsa ini bisa selalu memperhatikan nilai-nilai manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga elemen-elemen di ruang publik dapat diutamakan bagi para penikmat jalan dan ruang terbuka. Semoga semua sarana dan prasarana yang dihasilkan di bumi Indonesia ini bisa menyentuh sisi humanis manusia. Semoga.

giri narasoma suhardi
gnarasoma@yahoo.com

gnarasoma Umum